<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950</id><updated>2012-02-16T10:59:01.997-08:00</updated><title type='text'>Kisah Sahabat</title><subtitle type='html'>be agood moslem or die as-shuhada</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-2275121266638989936</id><published>2010-01-23T20:45:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T05:34:35.001-08:00</updated><title type='text'>An-Najasyi, Ash-Hamah bin Abjar, Sang Raja Nan Arif Lagi Bijaksana</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: #505050;"&gt;“Tatkala raja Najasyi meninggal kami saling menuturkan bahwasanya di atas kuburnya masih terlihat cahaya...” ('Aisyah Ummul Mu'minin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh kita kali ini adalah seorang Tabi'in jika ia termasuk dari kalangan Tabi'in, atau ia adalah seorang sahabat jika ia terhitung sebagai seorang sahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia telah mengirim surat kepada Rasulullah SAW, sebagaimana Rasulullah juga mengirim surat kepadanya. Ketika ia meninggal Rasulullah SAW melakukan shalat ghaib untuknya, padahal beliau tidak pernah shalat ghoib untuk selainnya. Ia bernama Ash-hamah bin Abjar yang dikenal dengan an-Najasyi.* Marilah kita sejenak mempelajari kepribadian dan kehidupan beliau.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahanda Ash-hamah adalah seorang raja Habasyah yang tidak mempunyai anak lagi selain dia. Sehingga pada suatu saat para pembesar Habasyah berkata, “Sesungguhnya raja kita tidak mempunyai seorang anak kecuali bocah kecil ini, jika raja mati maka ia akan menggantikannya dan memimpin kita sedangkan kita tidak menghendakinya. Bagaimana kalau kita membunuh raja kita yang sekarang dan kita angkat saudaranya menjadi penggantinya, sesungguhnya ia mempunyai dua belas anak yang akan mewarisinya.” Demikianlah syetan terus menerus membisikkan kejahatan kepada mereka sampai akhirnya mereka membunuh sang raja dan kemudian menobatkan saudara laki-lakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ash-hamah tumbuh berkembang di bawah perlidungan dan pemeliharaan pamannya sampai tampak pada dirinya kecerdasan, semangat yang tinggi, perkataan yang fasih dan kepribadian yang terpuji. Sehingga ia merasa kagum dan mengutamakan Ash-hamah daripada anak-anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian kembali syetan membisikkan kejahatan kepada para pembesar Habasyah sehingga di antara mereka ada yang berkata kepada yang lain, “Demi Allah kita takut kalau-kalau nantinya Ash-hamah akan menjadi raja, dan jika terjadi yang demikian maka ia benar-benar akan membalas kematian ayahandanya dan membunuh kita semua.” Maka kemudian mereka mendatangi raja dan berkata, “wahai raja, sesungguhnya hati kita belum bisa tenang kecuali jika engkau membunuh Ash-hamah atau engkau mengusirnya dari hadapan kami. Sekarang ia telah tumbuh dewasa, kami takut ia akan membalas kematian ayahandanya dan membunuh kita semua.” Akan tetapi sang raja berkata kepada mereka, “Kalian memang benar-benar sejelek-jelek manusia! Pada waktu lalu kalian telah membunuh ayahnya, dan hari ini kalian memintaku untuk membunuhnya?! Demi Allah aku tidak akan melakukannya.” Mereka berkata, “Bagaimana kalau kita mengusirnya dari negeri kita.? Maka kemudian sang raja menuruti kemauan mereka dengan rasa enggan dan berat hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama setelah pengasingan Ash-hamah terjadilah sesuatu yang tidak disangka-sangka. Langit gelap gulita tertutup awan, guntur menggelegar hebat, kilat menyambar sang raja hingga meninggal dunia, maka para pembesar Habasyah memilih salah satu di antara anak-anaknya untuk menjadi raja, akan tetapi mereka tidak menemukan seorangpun yang pantas di antara mereka sehingga mereka khawatir dan gundah. Kekhawatiran itu semakin bertambah tatkala mengetahui bahwasanya negeri tetangga sekitar Habasyah ingin mengambil kesempatan ini untuk menjajah mereka. Maka sebagian mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya apa yang kita lakukan tidak akan mencapai tujuan kita, tidak ada seorangpun yang mampu menjaga kerajaan kalian selain pemuda yang pernah kita usir. Jika kalian ingin Habasyah tetap aman dan damai, maka carilah ia dan kembalikan ia ke tempat yang seharusnya.” Maka kemudian mereka keluar mencarinya, setelah menemukannya mereka membawanya kembali ke tanah air dan meletakkan tahta di atas kepala Ash-hamah serta membaiatnya menjadi seorang raja. Setelah menjadi raja, Ash-hamah memimpin tanah airnya dengan arif dan bijaksana. Ia menjadikan negerinya kembali tenang dan damai. Dan pada masa kepemimpinannya Habasyah menjadi negeri yang adil dan makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama Najasyi menduduki kursi kerajaan, Allah pun mengutus nabi Muhammad SAW dengan membawa agama petunjuk. Banyak di kalangan orang-orang yang diberi petunjuk masuk ke dalam agama Islam satu demi satu. Maka kemudian orang-orang kafir Quraisy melakukan penyiksaan terhadap orang-orang yang masuk Islam, sehingga tatkala kota Makkah terasa sempit bagi mereka dan penindasan serta siksaan semakin menjadi-jadi, baginda Rasulullah SAW berkata kepada mereka, “Sesungguhnya di bumi Habasyah ada seorang raja yang di wilayahnya tidak ada seorangpun yang terdzalimi, pergilah kalian ke sana dan berlindunglah di sisinya sampai Allah menjadikan jalan keluar bagi kalian dan mengeluarkan kalian dari kesempitan ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sekelompok sahabat berhijrah ke Habasyah untuk yang pertama kalinya. Mereka berjumlah delapan puluh orang pria dan wanita. Setelah sampai mereka baru merasakan kembali rasa aman dan ketenteraman serta dapat menikmati manisnya ketakwaan dan ibadah tanpa ada seorangpun yang mengganggu ibadah mereka. Akan tetapi setelah orang-orang Quraisy mengetahui kepergian orang-orang muslim, kemudian mengejar mereka ke Habasyah untuk memulangkan mereka ke Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang Quraisy mengutus dua orang pilihan dari mereka yang berpengalaman dan cerdas, yaitu 'Amr bin 'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah dengan membawa berbagai macam hadiah yang sangat banyak untuk diberikan kepada raja Najasyi dan para punggawanya. Setelah sampai, mereka langsung menemui para pembesar Habasyah terlebih dahulu sebelum menghadap sang raja, kemudian mereka berdua memberi setiap pembesar itu sejumlah hadiah seraya berkata, “Sesungguhnya ada beberapa orang bodoh dari negeri kami yang menyusup ke negeri kalian. Mereka keluar dari agama nenek moyang mereka dan memecah belah agama kaumnya. Maka apabila kami menghadap raja untuk mengadukan tentang perkara mereka, pengaruhilah sang raja agar mau menyerahklan mereka kepada kami tanpa menanyakan tentang agama mereka. Sesungguhnya kami, para pembesar mereka, lebih tahu tentang keadaan mereka dan tentang apa yang mereka yakini saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Amr bin 'Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah masuk menghadap raja dan bersujud menyembahnya seperti kaumnya bersujud. Raja Najasyi menyambut mereka dengan sebaik-baik sambutan. Kemudian mereka menyerahkan kepada sang raja berbagai macam hadiah yang dibawa dari Makkah seraya menyampaikan salam penghormatan dari para pembesar Makkah yang diketuai Abu Sufyan.**&lt;br /&gt;Setelah itu kemudian mereka berkata,&lt;br /&gt;“Wahai raja, sesungguhnya ada beberapa orang bodoh dari negeri kami yang menyusup ke negeri tuan. Mereka telah meninggalkan agama kami akan tetapi tidak masuk ke agama tuan. Mereka datang dengan agama baru yang kami tidak mengetahuinya secara persis dan begitu juga tuan. Kami diutus para pembesar kaum kami untuk menemui tuan, agar tuan berkenan mengembalikan orang-orang ini kepada kami. Karena mereka lebih tahu dengan apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka yakini dari agama baru tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian raja Najasyi memandang ke arah para punggawanya sebagai isyarat meminta pendapat mereka, maka mereka berkata,&lt;br /&gt;“Mereka benar wahai baginda raja, sesungguhnya kita tidak akan tinggal diam dengan agama baru yang mereka ada-adakan, dan sesungguhnya kaum mereka lebih tahu tentang keadaan mereka dan apa yang mereka ada-adakan daripada kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Najasyi berkata,&lt;br /&gt;“Tidak, Demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka sampai aku mendengar apa yang mereka katakan dan tahu apa yang mereka yakini. Maka jika memang benar mereka dalam kejahatan, aku akan menyerahkan mereka kepada kaumnya. Dan jika mereka ada pada kebaikan, maka aku akan melindungi dan berlaku baik kepada mereka selama mereka berada di wilayahku.” Kemudian ia melanjutkan ucapannya, “Demi Allah, sesungguhnya aku tidak akan melupakan anugerah-Nya kepadaku, sesungguhnya Dia telah mengembalikanku ke negeri asalku dan melindungiku dari tipu daya orang-orang yang tidak suka kepadaku serta menjagaku dari kejahatan mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Najasyi memanggil orang-orang Islam untuk menghadapnya dan bertemu dengan kaumnya, sehingga mereka merasa takut dan sebagian dari mereka berkata kepada sebagian yang lain, “Apa yang akan kalian katakan jika ia bertanya tentang agama kalian.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara mereka ada yang menjawab, “Kita katakan apa yang difirmankan oleh Allah Azza wa Jalla dalam kitab-Nya, dan kita khabarkan apa yang dibawa nabi kita Rasulullah SAW dari Tuhannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka pergi menghadap sang raja. Setelah sampai di hadapan raja mereka mendapati di sana ada 'Amr bin 'Ash dan Abdullah bin Abi Rabi'ah serta para punggawa dan pendeta. Kemudian mereka mengucapkan salam kepada raja dengan penghormatan Islam dan langsung duduk. Sedang 'Amr bin 'ash melihat ke arah mereka seraya berkata,&lt;br /&gt;“Mengapa kalian tidak bersujud kepada raja.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab,&lt;br /&gt;“Sesungguhnya kami tidak bersujud kecuali kepada Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demi mendengar jawaban itu, sang raja merasa kaget kemudian berkata, “Macam apakah agama kalian ini, sehingga karenanya kalian meninggalkan agama kaum kalian dan tidak juga masuk ke dalam agama kami.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Ja'far bin Ali Thalib sebagai juru bicara kaum muslimin menjawab, “Wahai raja, sesungguhnya kami tidaklah mengada-adakan agama kami, akan tetapi telah datang kepada kami Muhammad bin Abdullah sebagai utusan Tuhannya dengan membawa agama petunjuk dan agama yang haq dan mengeluarkan kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang benderang. Dahulu kami adalah pemeluk agama jahiliyah, kami menyembah berhala, memutuskan tali silaturrahmi, memakan bangkai, gemar berbuat kemaksiatan, menyakiti tetangga, dan yang kuat di antara kami memakan yang lemah. Begitulah gambaran keadaan kami dahulu, hingga Allah mengutus seorang Rasul dari kalangan kami sendiri yang kami tahu nasab, kejujuran, amanah dan kesucian dirinya. Beliau menyeru kami kepada Allah untuk menyembah dan mengEsakan-Nya. Memerintahkan kami menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menyuruh kami meninggalkan apa yang pernah kami sembah yang berupa batu dan arca. Sebagaimana beliau juga memerintahkan kami untuk berkata jujur, melaksanakan amanah, menyambung silaturahmi, berbuat baik kepada tetangga, menahan diri dari apa-apa yang diharamkan dan menghindari pertumpahan darah. Beliau melarang kami berbuat kemaksiatan, berkata dusta dan memakan harta anak yatim. Lalu kami membenarkannya, mengimani risalahnya dan mengikuti apa yang dibawanya. Kemudian kami menyembah Allah Yang Maha Esa, Yang tiada sekutu bagi-Nya, kami mengharamkan apa yang Dia haramkan atas kami dan kami halalkan apa yang Dia halalkan bagi kami. Akan tetapi setelah itu kaum kami memusuhi kami dan menyiksa kami agar kami kembali kepada agama mereka dan kembali menyembah berhala-berhala setelah kami menyembah Allah Yang Maha Esa. Setelah mereka menekan kami, berbuat semena-mena terhadap kami, mempersempit gerak kami dan menghalangi diri kami dari agama kami, maka kami pun pergi ke negeri tuan dan tinggal di sini. Kami memilih tuan dari pada yang lain dengan harapan agar kami tidak didzalimi di sisi tuan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Najasyi bertanya,&lt;br /&gt;“Apakah engkau mempunyai sesuatu dari apa yang dibawa oleh rasulmu dari Tuhannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja'far bin Abi Thalib menjawab,“Ya”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najasyi berkata lagi, “Kalau begitu bacakanlah untukku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian Ja'far membacakan surat Maryam, dan di antara yang dibacanya ialah firman Allah yang artinya,“Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Qur'an, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur. maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, ‘esungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’Ia (Jibril) berkata, ‘esungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.’ Maryam berkata, ‘Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina.!’ Jibril berkata, ‘Demikianlah . Tuhanmu berfirman, ‘Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan.’ Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata, ‘Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.’ Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu.” (QS.Maryam:16-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demi mendengar apa yang dibacakan, raja Najasyi menangis hingga jenggotnya basah oleh air mata, dan demikian juga para pendeta yang ada di majlis tersebut, mereka semua menangis hingga lembaran-lembaran yang mereka bawa basah oleh air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Najasyi melihat kea arah 'Amr bin 'Ash dan kawannya seraya berkata, “Sesungguhnya apa yang telah ia baca dan apa yang dibawa Isa adalah benar-benar keluar dari satu misykat (sumber).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata kepada keduanya, “Demi Allah, aku sama sekali tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia bangkit pergi dan diikuti oleh orang-orang yang bersamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Amr bin 'Ash keluar dalam keadaan murka, kemudian berkata kepada kawannya, “Demi Allah besok aku akan menemui Najasyi kembali, dan aku akan mengabarkan kepadanya tentang mereka yang akan membuat mereka musnah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kawannya yang lebih sabar dan lebih murah hati berkata, “Janganlah engkau lakukan itu wahai 'Amr. Sesungguhnya mereka adalah saudara kita meskipun mereka telah menyelisihi kita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi 'Amr tetap bersikeras dan berkata kepada kawannya, “Demi Allah, aku akan katakan kepada raja bahwasanya mereka telah mengatakan sesuatu tentang Isa bin Maryam dan menyembunyikan sesuatu yang lain, bahwasanya mereka menganggap Isa adalah seorang hamba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala datang waktu pagi, 'Amr masuk menghadap Najasyi dan berkata, “Wahai raja, sungguh mereka telah mengatakan sesuatu di depanmu, akan tetapi mereka menyembunyikan sesuatu darimu. Sesungguhnya mereka beranggapan bahwasanya Isa bin Maryam hanyalah seorang hamba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Najasyi memanggil mereka dan bertanya, “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja'far bin Abi Thalib menjawab, “Kita mengatakan seperti apa yang telah datang dari nabi kita SAW”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja bertanya lagi, “Apakah yang ia katakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ja'far menjawab, “Sesungguhnya Isa adalah hamba Allah, utusan-Nya dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam yang masih suci.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najasyi kemudian berkata, “Demi Allah, Isa tidaklah keluar dari apa yang kalian katakan sedikitpun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah mendengar perkataan Najasyi yang terakhir, para pendeta dan yang hadir saling berpandangan dan berbisik antara yang satu dengan yang lain, mereka mengingkari apa yang telah dikatakan oleh Najasyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka Najasyi memandangi mereka seraya berkata, “Walaupun kalian mengingkarinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia berkata kepada Ja'far bin Abi Thalib dan yang bersamanya, “Pergilah, sesungguhnya kalian aman di negeriku ini. Barangsiapa yang menyakiti kalian maka ia akan merugi. Sekalipun aku diberi gunung emas, aku tidak akan menyakiti salah seorang di antara kalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kemudian berkata kepada para pelayannya, “Kembalikan semua hadiah itu kepada 'Amr dan kawannya karena kita tidaklah membutuhkannya, dan sesungguhnya Allah tidak meminta uang sogokan dariku tatkala Dia mengembalikan kerajaan ini kepadaku, sehingga aku perlu mengambil uang sogokan setelah mendapatkan kekuasaan ini. Dan orang-orang tidak perlu patuh karena aku, sehingga akupun harus patuh karenanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, para pendeta kemudian mengumumkan kepada semua orang bahwasanya sang raja telah meninggalkan agamanya dan masuk agama lain. Mereka mengajak masyarakat agar menurunkan sang raja dari tahta, sehingga mereka mendirikan perkumpulan kemudian memutuskan untuk menurunkan Najasyi dari tahta kerajaan. Setelah raja mendengar demikian, ia menulis surat kepada Ja'far dan para sahabatnya menghabarkan tentang hal ini, kemudian menyiapkan sebuah perahu bagi mereka dan berkata, “Naiklah kalian dan bersiaplah terhadap apa yang akan terjadi, jika aku kalah maka pergilah ke tempat yang kalian inginkan dan jika aku menang maka tetaplah di tempat kalian berada.” Kemudian ia mengambil sehelai kertas dari kulit rusa dan menuliskan di atasnya, “Aku bersaksi bahwasanya tiada Ilah yang patut disembah selain Allah, dan aku bersaksi pula bahwasanya Muhammad adalah hamba dan Rasul terakhir-Nya. Aku juga bersaksi bahwasanya Isa adalah hamba dan rasul-Nya, ruh dan kalimat-Nya yang ia tiupkan kepada Maryam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menggantungkan sehelai kertas tersebut di atas dadanya dan memakai Qiba-nya*** kemudian pergi menemui rakyatnya. Tatkala sampai di depan mereka ia menyeru dan berkata, “Wahai rakyat Habasyah, apa yang kalian lihat pada diriku?”&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Engkau adalah raja yang bijaksana.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja bertanya lagi, “Maka apakah yang kalian tidak suka dariku.?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Sungguh engkau telah meninggalkan agama kami dan mengatakan bahwasanya Isa adalah seorang hamba.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najasyi berkata, “Apa yang kalian katakan tentang Isa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, “Ia adalah anak Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian Najasyi meletakkan tangannya di atas sehelai kertas yang tergantung di dadanya seraya berkata, “Dan aku bersaksi bahwasanya Isa tidaklah lebih dari sesuatu ini.” (Yang dia maksud adalah apa yang tertulis di kertas tersebut). Maka mereka gembira dan pergi meninggalkan raja dalam keadaan ridha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW mendengar apa yang terjadi antara Najasyi dan rakyatnya, dan tentang perlindungannya terhadap orang-orang Islam yang berhijrah ke negerinya sehingga mereka merasa aman dan tentram. Beliau merasa gembira terhadap kabar tentang kecondonganya kepada Islam dan keyakinannya terhadap kebenaran al-Qur'an. Kemudian hubungan antara Najasyi dan Nabi SAW semakin baik dan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bulan pertama tahun ke-7 H, Rasulullah SAW berkeinginan keras untuk mendakwahi enam raja terbesar di dunia agar masuk ke dalam agama Islam. Maka beliau menulis surat kepada mereka. Melalui surat tersebut, beliau mengajak mereka masuk Islam dan beriman kepada Allah serta memperingatkan mereka dari kekufuran dan kesyirikan. Dan untuk menyampaikan maksudnya ini, beliau telah menyiapkan enam sahabat pilihan, maka setiap dari mereka mempelajari bahasa Negara yang akan ia datangi, kemudian mereka keluar untuk menunaikan amanat ini pada hari yang sama. Dan 'Amr bin Umayyah adh-Dhumari adalah sahabat yang diutus ke raja Habasyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Amr bin Umayyah masuk menghadap raja Najasyi dan memberikan salam penghormatan Islam, maka Najasyi menjawab salamnya dengan yang lebih baik dan menyambutnya dengan sebaik-baik sambutan. Kemudian 'Amr memberikan surat kepada Najasyi yang dititipkan oleh Rasulullah SAW. Ia langsung membuka surat tersebut dan didapatinya bahwasanya Rasulullah mengajaknya masuk Islam, dan menuliskannya sesuatu dari al-Qur'an. Maka kemudian Najasyi menempelkan surat tersebut pada keningnya untuk mengagungkannya, dan ia turun dari singgasananya sebagai bentuk ketundukannya terhadap apa yang datang padanya. Kemudian ia mengumumkan keislamannya di depan para hadirin yang datang pada hari itu, dan ia mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian berkata, “Andai saja bisa, sungguh aku akan pergi menemui Muhammad SAW dan duduk di depannya, kemudian mencium kakinya.” Kemudian ia menulis surat kepada Nabi SAW sebagai jawaban atas ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu 'Amr bin Umayyah mengeluarkan surat yang ke dua dari Rasulullah SAW yang berisikan agar sang raja sudi menikahkan beliau dengan Ramlah binti Abi Sufyan bin Harb. Ramlah adalah seorang perempuan yang mempunyai kisah sedih pada awalnya, akan tetapi berakhir dengan kegembiraan yang tiada tara. Ia dipanggil Ummu Habibah.&lt;br /&gt;Berikut petikan kisahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramlah telah kufur terhadap tuhan-tuhan nenek moyangnya. Ia bersama suaminya, Ubaidillah bin Jahsy masuk Islam dan beriman kepada Allah Yang Maha Esa Yang tiada sekutu bagi-Nya. Ia telah membenarkan risalah yang dibawa nabi Muhammad SAW. Maka kemudian orang-orang Quraisy memaksa mereka berdua agar kembali kepada agama nenek moyang dan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih sampai kemudian tidak mampu lagi tinggal di Makkah. Mereka berdua adalah termasuk orang-orang yang berhijrah ke negeri tempat Najasyi tinggal. Maka mereka mendapatkan perlakuan yang baik dari Najasyi seperti para muhajirin lainnya. Sampai pada suatu saat Allah menguji Ummu Habibah dengan ujian yang sangat berat baginya. Ujian tersebut adalah, bahwasanya suaminya yang bernama Ubaidillah bin Jahsy telah murtad, keluar dari Islam dan kemudian masuk agama nashrani. Kemudian ia hidup bersama para pemuja khamr dan bermabuk-mabukan setiap hari. Dan ia memberi pilihan kepada istrinya antara dua hal yang sama-sama pahit, yaitu antara diceraikan atau masuk nashrani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Habibah mendapati dirinya ada pada tiga pilihan: Pertama, ia mengikuti suaminya dan murtad, yang artinya ia memilih kesenangan dunia untuk mendapatkan kepedihan adzab di akhirat. Kedua, ia kembali ke rumah ayahandanya di Makkah yang masih dalam kubangan kesyirikan. Ketiga, ia tetap tinggal di Habasyah bersama anak perempuannya yang masih kecil bernama Habibah tanpa suami di sampingnya. Akan tetapi ia mengutamakan keridhaaan Allah atas segala sesuatunya dan bertekad untuk tetap tinggal di Habasyah sampai Allah memberinya jalan keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan Ummu Habibah tidaklah berlangsung lama. Suaminya meninggal dalam keadaan mabuk karena khamr. Kemudian belum juga masa iddahnya selesai, sampai datanglah jalan keluar yang dijanjikan oleh Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi hari, ia mendengar pintu rumahnya diketuk, tatkala pintu dibuka ia dikagetkan dengan kedatangan pelayan Najasyi yang bernama Abrahah. Ia mengucapkan salam kepadanya seraya berkata, “Sesungguhnya sang raja menghadiahkan salam untukmu dan berkata, bahwasanya Muhammad Rasulullah melamarmu dan meminta raja untuk mengakadkanmu, maka carilah seseorang yang akan mewakilimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi mendengar kabar tersebut, ia diselimuti kegembiraan yang tiada tara kemudian berkata, “Semoga Allah memberimu kabar gembira…semoga Allah memberimu kabar gembira.” Lalu berkata, “Aku menunjuk Khalid bin Sa'id bin al-'Ash sebagai wakilku, karena ia adalah kerabat yang paling dekat denganku di negeri ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kerajaan Najasyi telah berkumpul para sahabat yang menetap di Habasyah untuk menghadiri acara akad nikah Ummu Habibah bagi Rasulullah SAW. Maka tatkala para tamu undangan telah hadir semua, raja Najasyi memuji Allah kemudian berkata, “Amma Ba'du, Sesungguhnya Rasulullah SAW telah memintaku untuk menikahkannya dengan Ramlah binti Abi Sufyan, maka aku kabulkan apa yang ia minta. Dan aku sebagai wakil dari Rasulullah menentukan mahar bagi Ramlah sebesar 400 dinar emas sesuai dengan sunnah Allah dan Rasul-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Kholid bin Sa'id bin 'Ash berdiri, memuji Allah dan memohon pertolongannya lalu berkata, “Amma ba'du, Aku memenuhi permintaan Rasulullah SAW, maka aku nikahkan beliau dengan orang yang mewakilkanku yaitu Ramlah binti Abi Sufyan. Semoga Allah memberkati Rasul-Nya pada istrinya dan berbahagialah bagi Ramlah dengan apa yang telah Allah anugerahkan kepadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Najasyi menyiapkan dua perahu miliknya, dan dengannya ia mengirim Ummu Habibah, Ramlah binti Abi Sufyan bersama anaknya Habibah beserta para sahabat yang masih tinggal di negerinya. Sebagaimana ia juga mengirim beberapa orang Habasyah yang telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan merindukan bertemu dengan beliau SAW untuk hidup bersama beliau dan shalat di belakangnya. Rombongan tersebut diketuai oleh Ja'far bin Abi Thalib -semoga Allah meridhainya-. Kemudian raja juga menghadiahkan kepada Ramlah Ummil Mu'minin minyak wangi yang paling istimewa yang dimiliki oleh para istrinya. Ia juga mengirimkan hadiah untuk baginda Rasul SAW. Di antaranya, tiga tongkat terbaik kepunyaan Habasyah. Rasulullah SAW mengambil satu, sedangkan dua yang lainnya, beliau hadiahkan kepada Umar bin Khaththab RA dan Ali bin Abi Thalib RA. Dan adalah Bilal RA berjalan di depan Rasulullah dengan tongkat yang ada padanya, dan ia tancapkan di depan beliau jika akan mendirikan shalat. Hal itu ia lakukan jika shalat didirikan di tempat-tempat yang tidak ada bangunan masjidnya yang menunjukkan arah kiblat, begitu juga pada saat safar, shalat 'Ied dan Istisqa’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilal memegang tongkat tersebut sampai pada masa pemerintahan Abi Bakar ash-Shidiq. Dan tatkala kekhilafahan sampai di tangan Umar bin Khaththab dan Utsman bin 'Affan, tongkat tersebut dipegang oleh Sa'ad al-Qurazhi. Setelah itu berpindah dari tangan khalifah ke tangan yang lain beberapa waktu lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najasyi juga menghadiahkan kepada Nabi SAW sebuah cincin emas. Beliau tetap menerimanya walaupun pada hakikatnya menolak hal itu, kemudian cincin tersebut ia berikan kepada Umamah, cucu perempuannya dari Zainab, beliau berkata kepadanya, “Pakailah cincin ini wahai putriku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Fathu Makkah, raja Najasyi dipanggil oleh Allah SWT, maka Rasulullah SAW mengajak para sahabat untuk menshalatinya (secara ghaib). Beliau berkata, “Sesungguhnya saudara kalian Ash-hamah telah meninggal dunia, maka shalatlah kalian atasnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Rasulullah SAW mengimami shalat ghaib untuknya, padahal beliau tidak pernah shaat ghaib sebelum ataupun sesudah meninggalnya raja Najasyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah meridhai Ash-hamah an-Najasyi, dan semoga ia ridha kepada-Nya. Dan semoga Allah menjadikan surga yang kekal sebagai balasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh ia telah menguatkan orang-orang Islam dahulu dari kelemahan dan memberikan keamanan dari rasa takut, dan semuanya itu ia lakukan karena mengharap keridhaan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;CATATAN :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Ash-hamah adalah namanya, sedangkan an-Najasyi adalah julukan baginya dan bagi raja-raja Habasyah, seperti halnya Kisra julukan bagi raja Persia dan Kaisar julukan bagi raja Romawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;** Abu Sufyan adalah salah seorang pembesar quraisy pada masa jahiiyah dan setelah masuk Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** Qiba adalah sejenis pakaian luar sperti jaket&lt;br /&gt;sumber :&lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt; oase qlbu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-2275121266638989936?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/2275121266638989936/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/najasyi-ash-hamah-bin-abjar-sang-raja.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/2275121266638989936'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/2275121266638989936'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/najasyi-ash-hamah-bin-abjar-sang-raja.html' title='An-Najasyi, Ash-Hamah bin Abjar, Sang Raja Nan Arif Lagi Bijaksana'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-4843548916608552975</id><published>2010-01-23T20:43:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T05:35:04.909-08:00</updated><title type='text'>Abdullah ibnu Huzhafah as-Sahmi</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: #505050;"&gt;Pahlawan kita kali ini adalah seorang sahabat yang dikenal dengan Abdullah ibnu Huzhafah as-Sahmi. Sejarah telah mencatat sepak terjang laki-laki ini sebagaimana pahlawan yang tidak pernah hilang dari benak orang Arab, bahkan Islam amat berjasa kepada Abdullah ibnu Huzhafah dengan mempertemukannya dengan para pemimpin dunia pada masa hidupnya seperti Kisra Parsi dan Kaisar Rum. Kisah Abdullah ibnu Huzhafah dengan kedua raja itu merupakan cerita yang tidak akan terlupakan sepanjang masa dan akan senantiasa terukir di dalam sejarah.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah dengan Kisra Raja Parsi terjadi tahun 6 H ketika Nabi berniat untuk mengutus beberapa sahabat beliau untuk menyampaikan surat-surat kepada raja-raja non-Arab untuk mengajak mereka memeluk Islam. Dan Rasulullah amat mengetahui risiko dari tugas-tugas itu. Para utusan tersebut akan pergi menuju daerah-daerah yang ditentukan oleh Nabi yang belum pernah mereka tempuh sebelumnya. Para utusan tadi tidak menguasai bahasa mereka dan tidak mengetahui bagaimana karakter raja-raja tersebut. Mereka akan mengajak raja-raja tersebut untuk meninggalkan agama mereka, melepaskan wibawa dan kekuasaan mereka, selanjutnya memeluk suatu agama yang sebelum ini pengikutnya berasal dari masyarakat mereka sendiri. Ini merupakan perjalanan yang amat berisiko. Hidup dan kembali dengan selamat atau mati di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena tugas yang mulia dan berat ini, Rasulullah mengumpulkan para sahabat beliau dan berkhotbah di depan mereka. Setelah mengucapkan hamdalah membaca syahadat, Rasulullah berkata, "Amma ba'du. Sesungguhnya aku berniat untuk mengutus sebagian kalian kepada para raja non-Arab. Maka janganlah kalian berseteru dengan mereka sebagaimana kaum bani Israel terhadap Isa ibnu Maryam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat berkata kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, "Wahai Rasulullah, kami akan melaksanakan apa yang engkau inginkan. Maka utuslah siapa saja dari kami yang engkau kehendaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam. memilih enam orang sahabat beliau untuk menyampaikan surat dakwah kepada para raja Arab dan non-Arab. Salah seorang dari mereka adalah Abdullah ibnu Huzhafah as-Sahmi. Ia diutus untuk menyampaikan surat Nabi kepada Kisra Raja Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah ibnu Huzhafah telah mempersiapkan perjalanannya. Ia meninggalkan istri serta anaknya. Dalam perjalanan, ia naik-turun bukit dan lembah seorang diri. Tiada yang menemaninya selain Allah Subhanahu wa Ta'ala hingga akhirnya ia menginjakkan kaki di perumahan Parsi. Ia kemudian meminta izin untuk menemui raja mereka, salah seorang pengawal mengambil surat yang dibawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, Kisra menyuruh pengawal memanggil para pejabat istana untuk menghadiri majelis. Mereka pun hadir semuanya. Setelah itu, Abdullah ibnu Huzhafah diizinkan memasuki istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah masuk menemui Kisra hanya dengan memakai pakaian yang tipis, selendang yang dijahit tebal. Ia begitu mencerminkan kesederhanaan orang Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ia adalah seorang yang tinggi tegap, bahunya lebar dan berisi karena kemuliaan Islam, di hatinya terhunjam kuat keimanan. Ketika Kisra melihatnya dengan mantap dan menyuruh salah seorang pengawalnya mengambil surat yang ada di tangannya, Abdullah berkata, "Tidak. Rasulullah menyuruhku untuk menyerahkannya kepadamu langsung dan aku tidak mau menyalahi amanah Rasulullah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisra pun berkata kepada pengawalnya, "Biarkanlah dia memberikannya kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Abdullah mendekati Kisra dan menyerahkan surat tersebut. Kemudian Kisra memanggil seorang penulis bangsa Arab dari Hirah dan menyuruhnya untuk membuka surat yang ada di tangannya dan membacakan surat tersebut kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bismillahirhamanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra yang agung Raja Parsi, keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk.&lt;br /&gt;Tatkala Kisra mendengar potongan kalimat tersebut, bergejolaklah api kemarahan menyesakkan dadanya. Mukanya memerah, keluarlah keringatnya karena marah, karena Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam memulai suratnya dengan namanya sendiri. Kisra langsung merebut surat itu dan merobeknya tanpa ingin mengetahui lanjutan isi surat tersebut. Ia berkata dengan nada marah, "Apakah ia menulis ini untukku, padahal ia adalah hambaku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia mengusir Abdullah ibnu Huzhafah dari istana. Abdullah pun langsung keluar. Abdullah ibnu Huzhafah keluar dari istana Kisra dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya. Dibunuh atau dibiarkan bebas? Akan tetapi, ia tetap yakin dan berkata, "Demi Allah, aku tak peduli apa yang akan terjadi setelah aku menyampaikan surat Rasul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia pun menunggangi kudanya dan pergi. Setelah kemarahan Kisra reda, ia menyuruh pengawalnya untuk memanggil Abdullah, tetapi Abdullah sudah tidak ada. Mereka mencari-carinya di setiap tempat. Mereka mencarinya di jalan menuju Arab dan mereka hanya mendapati bekas jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Abdullah menghadap Rasul, ia menceritakan apa yang telah terjadi tentang Kisra yang merobek surat beliau. Mendengar hal itu, Rasul hanya berkata, "Allah akan menghancurkan kerajaannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, Kisra menyuruh wakilnya, Badzan, di Yaman untuk mengutus dua orang kuat dari Hijaz untuk menyusul Abdullah dan membawanya kembali. Lalu Badzan mengutus dua orang laki-laki pilihannya menemui Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam untuk menyampaikan sebuah surat. Surat tersebut berisi agar Rasul membiarkan orang tersebut membawa Abdullah ke Kisra segera. Badzan meminta dua orang tersebut menemui Rasul dan mengutarakan urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dua orang itu pun segera berangkat. Ketika sampai di Thaif, ia menjumpai para pedagang Quraisy dan bertanya kepada mereka tentang Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam. Mereka menjawab, "Ia sekarang ada di Yatsrib."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pedagang tadi membawa berita gembira tersebut ke Mekah. Mereka menceritakan berita baik itu kepada kaum Quraisy dan berkata, "Bergembiralah. Sesungguhnya, Kisra akan menghalangi Muhammad dan akan menghentikan dakwahnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dua orang utusan itu terus melanjutkan perjalanan ke Madinah. Setelah menemui Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam, mereka memberikan surat Badzan dan berkata, "Maharaja Kisra menulis surat kepada raja kami, Badzan, untuk menjemput kembali orang yang datang kepadanya beberapa hari yang lalu. Kami datang untuk menjemputnya. Jika engkau mengizinkan, Kisra mengucapkan terima kasih kepadamu dan membatalkan niatnya untuk menyerangmu. Jika engkau enggan mengizinkannya, maka dia sebagaimana engkau ketahui, kekuatannya akan memusnahkanmu dan kaummu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pun tersenyum dan berkata kepada utusan itu, "Sekarang pulanglah kalian berdua dan besok kembali lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, utusan itu kembali menemui Nabi Shalallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Apakah engkau telah mempersiapkan apa yang akan kami bawa menemui Kisra?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi berkata, "Kalian berdua tidak akan menemui Kisra setelah hari ini. Allah akan membunuhnya. Pada malam ini, bulan ini, anaknya, Syirawaih akan membunuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menatap tajam wajah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam, mereka terlihat sangat geram lalu berkata, "Kau sadar apa yang kau ucapkan? Kami akan mengadukannya kepada Badzan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Silakan! Katakan kepadanya, 'Agamaku akan sampai dan tersebar di kerajaan Kisra.' Dan kamu, jika engkau masuk Islam aku akan menjadikanmu raja bagi kaummu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua utusan itu pergi dari hadapan Rasulullah Shalallahu 'alaihi wasallam. Mereka langsung menemui Badzan dan menceritakan apa yang telah terjadi. Badzan berkata, "Jika benar apa yang kalian katakan, berarti ia benar adalah seorang Nabi. Jika tidak, kita akan lihat apa yang akan terjadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama mereka bersama Badzan, datanglah surat dari Syirawaih, "Aku telah membunuh Kisra untuk membalaskan dendam kaum kami. Ia telah membunuh orang yang kami muliakan, menawan para wanita kami, dan merampas harta-harta kami. Jika surat ini datang ke tanganmu, maka aku sekarang adalah raja kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membaca surat itu, ia membuangnya dan langsung menyatakan memeluk Islam, kemudian orang-orang Furs dan Yaman juga memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sekilas kisah pertemuan antara Abdullah ibnu Huzhafah dan Kisra Parsi. Lalu bagaimanakah kisah pertemuannya dengan Kaisar Agung Rum? Pertemuannya itu terjadi pada masa khalifah Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu.. Peristiwa itu merupakan kisah yang amat mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 19 H, Umar ibnul Khaththab mengutus pasukan memerangi Romawi. Salah seorang di antara mereka adalah Abdullah ibnu Huzhafah as-Sahmi. Saat itu, Kaisar Agung Romawi mengetahui kabar kedatangan pasukan muslimin, kekuatan iman yang ada di dalam dada mereka, keyakinan teguh mereka, serta keikhlasan atas diri mereka di jalan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia menyuruh pasukannya jika menang atas pasukan muslimin untuk membawa hidup-hidup tawanan kepadanya dan Allah menakdirkan Abdullah ibnu Huzhafah termasuk dalam tawanan pasukan Romawi itu. Mereka membawa Huzhafah menghadap Kaisar. Mereka berkata, "Orang ini adalah tawanan dari sahabat Muhammad yang telah lama memeluk Islam. Kami membawanya untukmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Romawi menatap Abdullah ibnu Huzhafah dalam-dalam dan berkata, "Aku akan menawarkan kepadamu sesuatu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah menjawab, "Apa itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Romawi tadi, "Aku menawarkanmu untuk memeluk Nasrani. Jika engkau lakukan, aku akan membebaskanmu dan memberimu kemuliaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkatalah Abdullah, "Enyahlah, sesungguhnya, kematian lebih aku sukai seribu kali lipat daripada apa yang engkau tawarkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar pun berkata, "Tetapi aku melihatmu sebagai seorang laki-laki yang kesatria. Jika kau mengabulkan tawaranku, aku akan membagimu kerajaanku dan menjadikanmu pemimpin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersenyumlah Abdullah yang terikat itu dan berkata, "Demi Allah, seandainya engkau pun akan memberikan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan yang ada di Arab agar aku meninggalkan agama Muhammad, sungguh tidak akan pernah aku lakukan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja itu kemudian berkata, "Aku akan membunuhmu!" Abdullah menjawab, "Silakan kerjakan apa yang kau inginkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kaisar menyuruh pengawalnya untuk menyalib Abdullah. Ia berkata kepada algojonya, "Panahlah dari dekat mulai dari tangannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Romawi itu terus menawarkan Abdullah untuk memeluk Nasrani, tetapi Abdullah tetap dalam pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja itu berkata lagi, "Panahlah kedua kakinya," sambil terus menawarkan Abdullah agar meninggalkan agama Muhammad. Akan tetapi, Abdullah tetap dalam pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Raja Romawi tadi memerintahkan untuk berhenti dan menurunkan Abdullah dari tiang salib. Kemudian ia memerintahkan untuk mengambil kuali besar dan memasukkan minyak ke dalamnya. Lalu kuali itu dipanaskan di perapian. Dan ia menyuruh membawa para tawanan dan melemparkannya salah seorang mereka ke dalamnya, sehingga dagingnya remuk dan meleleh hingga tulangnya kelihatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Kaisar menoleh kepada Abdullah ibnu Huzhafah dan mengajaknya untuk memeluk Nasrani. Tetapi hasilnya, Abdullah semakin mantap dengan pendiriannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kaisar telah putus asa, ia memerintahkan untuk melemparkan Abdullah ke dalam kuali yang telah dimasuki dua orang sahabatnya. Ketika akan masuk, ia menangis dan air matanya bercucuran. Para pengawal tadi pun memberi tahu Raja Romawi tadi bahwa Abdullah menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Romawi itu mengira bahwa Abdullah takut dan berkata, "Kembalikan ia kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berada di depan Raja Romawi, ia kembali menawarkannya memeluk Nasrani, tetapi Abdullah tetap enggan. Kaisar berkata, "Celakalah engkau! Lalu apa yang membuatmu menangis?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah berkata, "Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, 'Sekarang kau dilemparkan ke kuali ini dan kau pun mati, sedang aku ingin sekali memiliki nyawa yang banyak bagi jasadku, sehingga semuanya dilemparkan ke dalam kuali di jalan Allah.'"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar lalu berkata, "Maukah engkau mencium dahiku dan aku akan melepaskanmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah berkata, "Engkau akan melepaskan semua kaum muslimin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaisar berkata, "Ya, semua kaum muslimin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah berkata, "Aku berkata di dalam hatiku. Ia adalah musuh Allah, aku mencium dahinya lalu ia melepaskanku dan semua kaum muslimin, hal itu tak ada masalah bagiku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia mendekat dan mencium dahinya. Kemudian Kaisar melepaskannya dan semua kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, Abdullah ibnu Huzhafah datang menghadap Umar ibnul Khaththab radhiyallahu 'anhu ... Lalu ia menceritakan semua yang dialaminya. Mendengar cerita itu, Umar al-Faruq amat senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ia melihat para tawanan, ia berkata, "Setiap muslim wajib mencium dahi Abdullah ibnu Huzhafah. Dan akulah yang akan mencium pertama kali." Kemudian ia berdiri dan mencium dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Shuwar min Hayati Ash-Shahaabah (&lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt;oase qalbu&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-4843548916608552975?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/4843548916608552975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abdullah-ibnu-huzhafah-as-sahmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/4843548916608552975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/4843548916608552975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abdullah-ibnu-huzhafah-as-sahmi.html' title='Abdullah ibnu Huzhafah as-Sahmi'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-7822144421040479419</id><published>2010-01-23T20:42:00.000-08:00</published><updated>2010-12-15T05:35:27.668-08:00</updated><title type='text'>Abu Sufyan bin Harb</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: #505050;"&gt;Abu Sufyan bin Harb terkenal sebagai salah seorang tokoh Quraisy pada zaman Jahiliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang saudagar terkenal, banyak mengenal keinginan pasar. Sebagai tokoh masyarakat Quraisy, ia banyak mengetahui gaya hidup masyarakatnya. Ia juga seperti yang dikatakan banyak orang, antara lain al-'Abbas bin Abdul Muththalib, senang dipuji dan dibanggakan orang.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dilahirkan sepuluh tahun sebelum terjadinya penyerbuan tentara gajah ke Mekkah. Ia sering memimpin kafilah perdagangan kaum Quraisy ke negeri Syam dan ke negeri 'ajam (selain Arab) lainya. Ia suka keluar dengan membawa panji para pemimpin yang dikenal dengan 'Al-'Uqab". Panji itu tidak dipegang melainkan oleh pemimpin Quraisy. Kalau terjadi peperangan, panji itu pun hanya dipegang olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putranya, Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiallâhu 'anhu adalah seorang penulis wahyu. Ia pernah diangkat menjadi gubernur negeri Syam sebelum pemerintahan Khalifah Umar ibnul-Khaththab radhiallâhu 'anhu. Putrinya, Ramlah binti Abu Sufyan radhiallâhu 'anha. (Ummu Habibah), adalah istri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam . Dan termasuk salah seorang dari Ummahaatul Mukminin radhiallahu 'anhunna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Habibah, istri Abdullah bin Jahsy, pergi berhijrah ke negeri Habasyah bersama dengan suaminya. Di negeri nun jauh itu tiba-tiba suaminya tergoda masuk agama Nashrani. Karenanya, ia minta cerai. Sesudah berakhir 'iddahnya, Raja Najasyi memanggilnya seraya berkata kepadanya, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah menulis surat kepada saya untuk mengawinkan anda dengan beliau" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramlah lalu berkata, "semoga Allah akan menggembirakan dan membahagiakan Paduka tuan juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramlah pun akhirnya menjadi isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam. Ketika Abu Sufyan mendengar berita perkawinan puterinya itu dengan Rasulullah, ia berkata, "Unta jantan ini semoga tidak dipotong hidungnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan mendengar dakwah yang dikumandangkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan ternyata dia merupakan orang yagn paling gigih melawan dan memeranginya. Dia pernah juga menyertai delegasi kaum Quraisy yang dikirim menemui Abu Thalib, meminta kepadanya supaya mau menyerahkan keponakannya (Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam) untuk disembelih oleh mereka, dengan syarat akan menggantikannya dengan seorang pemuda Quraisy lainya yang mereka pandang lebih mendatangkan keberuntungan bagi mereka semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga pernah mengadakan persekutuan jahat dengan pemimpin Quraisy lainnya terhadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin, dengan mendatangkan surat pernyataan memblokade Bani Hasyim, yaitu tidak mengadakan hubungan perkawinan dan jual-beli dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba saatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum muslimin pergi berhijrah ke Madinah. Ternyata, kaum muslimin hidup aman dan berbahagia di negeri yang tentram ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengetahui bahwa Abu Sufyan sedang dalam perjalanan dari Syam ke Mekkah, memimpin kafilah dagang kaum Quraisy, kaum yang selama lebih dari sepuluh tahun telah menyiksa dan menyengsarakan mereka, yang telah mengusir mereka keluar dari negerinya dan juga merampas harta kekayaannya. Abu Sufyan sendiri terlibat dalam perbuatan jahat dan keji itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memberitahukan hal itu, terutama kepada kaum Muhajirin, "Kafilah dagang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan segera akan melintasi daerah kita. Marilah kita keluar mencegatnya. Barangkali Allah akan menggantikan apa-apa yang telah mereka rampas dari kita dahulu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di perbatasan Hijaz, Abu Sufyan mulai dirundung firasat tidak enak. Ia selalu bertanya kepada setiap orang atau kafilah yang datang dari jurusan Madinah dengan perasaan was-was dan takut. Akhirnya ia mendengar dari salah satu sumber yang meyakinkan bahwa Muhammad telah mengerahkan orang-orangnya untuk mencegat kafilah yang dipimpinnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan lalu membayar seorang kurir untuk mengirimkan kabar tentang hal itu ke kota Mekkah, namanya Dhamdham bin Amru al-Ghifari. Dalam pesannya itu, ia berharap supaya kaum Quraisy mengirimkan pasukannya untuk melindungi kafilah yang dipimpinnya dari serangan Muhammad dan para sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata diluar dugaan, Abu Sufyan berhasil menempuh jalan keluar dari kepungan Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Ia segera mengirim kurir yang lain untuk menemui kaum Quraisy yang hendak melindungi kafilahnya. Ia berkata, "Kalian keluar untuk menyelamatkan kafilah, harta, dan orang-orang kalian. Kini, semuanya itu sudah diselamatkan oleh Allah. Kami harap kalian segera kembali ke Mekkah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Jahal berkata kepada anggota pasukannya , "Demi Allah, kami tidak akan kembali hingga sampai ke Badar. Disana, kami akan berdiam tiga hari tiga malam, bersuka ria, memotong ternak, makan-makan, minum-minuman keras, dan wanita menyanyi dan menari agar bangsa Arab mendengar dan mengetahui perjalanan dan berkumpulnya kami, dan senantiasa menakuti kami. Ayo jalan terus!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terjadilah peperangan di Badar antara pasukan yang dipimpin Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan pasukan yang dipimpin Abu Jahal. Dalam peperangan itu, Abu Jahal dan banyak tokoh Quraisy lain tewas, dan banyak juga yang tertawan. Diantara yang tertawan itu adalah Abul 'Ash bin ar-Rabi', suami Zainab binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Kaum Quraisy mengirimkan tebusan untuk pembebasan para tawanannya, sedangkan Zainab binti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan liontin pemberian ibunya, Khadijah binti Khuwalid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam melihatnya, lalu ia bersabda kepada para sahabatnya dengan penuh haru, "Kalau kalian ridha melepaskan tawanannya dan mengembalikan hartanya, silahkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menyambutnya, "Baiklah, ya Rasulullah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam meminta janji Abul 'Ash bahwa ia akan melepaskan putrinya, Zainab, pergi ke Madinah. Untuk itu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam telah mengirimkan Zaid bin Haritsah dan seorang lainnya dari orang Anshar untuk mengawalnya. Rasulullah bersabda kepada orang itu, "Kalian berdua hendaklah menunggu kedatangan Zainab di Lembah Ya'jaj kemudian menyertainya hingga datang ke sini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Abul 'Ash tiba di Mekkah, ia langsung memerintahkan Zainab (isterinya) pergi ke Madinah untuk menyusul ayahnya. Sesudah keberangkatannya dipersiapkan, ia meminta kepada saudaranya, Kinanah bin ar-Rabi', untuk mengawal keberangaktan isterinya itu. Kinanah berangkat di siang hari dengan mengendarai unta, membawa panah dan busurnya, sedangkan sayyidatina Zainab di atas haudaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarnya Zainab ini sempat membuat ketegangan di kalangan kaum Quraisy yang baru kalah perang di Badar. Mereka mengejarnya dan berhasil menyusulnya di suatu tempat yang bernama Dzi Thuwa. Orang yang pertama berhasil mengejarnya ialah Hubar bin al-Aswad bin Abdul Muththalib bin Ased.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinanah dengan cekatan menghadang Hubar seraya berkata, "Demi Allah, jangan ada yang mendekati kami. Kalau tidak, aku tidak ragu-ragu melepaskan panahku ini". Orang-orang pun menjauh darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama setelah itu, Abu Sufyan datang dengan rombongannya hendak melerai kedua rombonga itu. Ia berkata: "Kinanah! Masukkanlah anak panahmu. Kami akan berbicara denganmu". Ia pun lalu memasukkan anak panahnya ke sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan lalu menasehatinya: "Kamu tidak tepat membawa keluar wanita itu di siang hari, padahal kamu tahu benar apa yang telah dilakukan Muhammad terhadap tokoh kita di Badar baru-baru ini. Dengan mengeluarkan putrinya di siang hari dari tengah-tengah kita, akan menimbulkan anggapan pada masyarakat bahwa kita melakukannya dalam keadaan hina dan lemah. Kami tidak berkepentingan untuk memisahkannya dari ayahnya, namun kami ingin wanita itu dibawa dahulu ke Mekkah, sampai suara-suara yang membicarakan kekalahan perang di Badar itu usai, barulah kamu membawanya keluar secara diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinanah membawa Zainab kembali lagi ke Mekkah. Sesudah beberapa malam, ketika pembicaraan Quraisy tentang kekalahannya sudah mulai mereda, barulah ia membawa keluar dengan diam-diam dan menyerahkannya kepada Zaid bin Haritsah dan rekannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan seperti itu, Abu Sufyan telah bertindak bijaksana sekali hingga dapat mengekang amarah kaum Quraisy yang sedang berkobar-kobar dan sekaligus berhasil juga memenuhi keinginan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk mengirimkan putrinya ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum setahun dari kekalahanya di Badar, kaum Qurasiy telah berhasil mengarahkan kabilah-kabilah yang ada di sekitar Mekkah untuk emerangi Muhammad. Abrang dagangan dari kafilah yang berhasil diselamatkan dari akum muslimin dahulu itu diapakai sebagfai modal utama untuk membiayai peperangan yang akan mereka lancarkan. Pasukan dipimpin oleh Abu Sufyan sendiri. Ia Keluar dengan isterinya, Hindun binti Utbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dalam peperangan itu, kaum Quraisy meraih kemenangan karena pasukan panah kaum muslimin melanggar perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk tidak meninggalkan kedudukannya di atas Bukit Uhud. Allah Ta'ala ingin memelihara kaum muslimin yang akan mengemban tugas menyebarkan agama-Nya ke seluruh penjuru dunia, agar mereka senantiasa bersatu padu, tidak bercerai berai, dan selalu kompak dan patuh pada perintah pimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah peperangan usai, Abu Sufyan naik ke atas puncak Gunung Uhud seraya berteriak dengan suara keras, "Peperangan berakhir dengan seri, Perang Badar dengan perang Uhud. Pujalah Dewa Hubal, agamamu telah menang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Wahai Umar, jawablah mereka dan katakanlah, 'Allah Maha Agung. Mayat orang-orang kami di surga dan mayat orang-orang kalian di api neraka".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Umar menjawab pertanyaannya, Abu Sufyan berkata kepadanya, "Wahai Umar, mari Anda ke sini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada Umar, "Hampirilah, Umar! Apa maunya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar pergi menghampirinya, lalu Abu Sufyan bertanya, "Saya mohon kepadamu, wahai Umar apakah pasukan kami telah membunuh Muhammad ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar menjawab, "Demi Allah, tidak. Dia mendengar bicaramu itu hingga kini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu berkata dengan tegas: "Saya lebih percaya kepadamu daripada Ibnu Qamiah, yang mengatakan ia telah berhasil membunuh Muhammad!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu ia akan kembali pulang, Abu Sufyan mengatakan lagi, "Kita akan bertemu lagi di tahun yang akan datang di Badar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan salah seorang sahabat untuk menjawab tantangan Abu Sufyan itu, "Katakanlah kepadanya, kami akan sambut tantanganmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan kembali dengan pasukannya. Di tengah jalan, ada seorang yang berkata kepada mereka, "Kita memang telah membunuh banyak pimpinan tertinggi kaum muslimin. Akan tetapi, mengapa kita tidak menumpas sisa-sisanya agar tidak memberikan kesempatan hidup lagi kepada mereka?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan termakan oleh pendapat itu. Akan tetapi, belum sempat ia memutar kepala kudanya, ia melihat Ma'bad bin Ma'bad al-Khuza'i datang dari arah uhud. Abu Sufyan lalu bertanya kepadanya, "Ada kabar apa, wahai Ma'bad?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab, "Muhammad dan kawan-kawanya sedang mengejar-ngejar kalian dengan pasukan yang tiada taranya. Orang-orang yang tidak ikut berperang bersamanya, kini sedang berkumpul dan menyesali diri. Mereka dengan perasaan marah akan mengejar kalian dan membalas dendam atas kekejaman yang derita kawan-kawannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan mengigil ketakutan. Ia bertanya, "Celaka, Apa katamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma'bad berkata lagi, menegaskan: "Menurut pendapat saya, sebaiknya kalian cepat-cepat pulang kembali!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan berkata kepadanya: "Sesungguhnya kami berniat akan kembali dan menumpas sisa tokoh mereka yang masih hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma'bad menasehati mereka, "Saya menasehatimu, janganlah Anda melakukannya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar nasihat Ma'bad, mereka cepat-cepat kembali pulang ke Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan telah mengerahkan pasukannya dan mendatangkannya untuk menyerang kaum muslimin di Uhud. Dia juga telah bertindak sebagai panglima tertinggi dalam peperangan ini sehingga banyak sahabat pilihan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang tewas karenanya, bahkan ia telah berjanji akan melancarkan serangan lagi tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang mungkin dilakukan sedangkan kekayaan, perlengkapan, dan pasukan mereka tidak terbilang banyaknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, dan Abu Lahab sudah tewas. Kalau Abu Sufyan termasuk orang yang tewas juga tentu keadaan akan berubah jauh, tentu banyak orang yang menganut Islam dengan terang-terangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang Abu Sufyan; ternyata banyak diantara mereka yang memberikan saran supaya dibunuh saja. Ia bertanggung jawab atas tewasanya para sahabat pilihan di medan Uhud. Jadi, kalau ia dibunuh, ini hanya merupakan qishas semata-mata, bukan suatu tindakan kejahatan. Rasululklah Shallallahu 'alaihi wasallam puas atas hasil musyawarah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memutuskan untuk mengirimkan Amru bin Umayyah ad-Dhamri dan seorang dari golongan Anshar pergi ke Mekkah untuk membunuh Abu Sufyan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang itu pergi memenuhi perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amru menceritakan misinya, "Saya keluar bersama rekan saya yang kurang sehat. Saya membawanya diatas untaku hingga mencapai Lembah Ya'jaj, tidak jauh dari Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata kepada rekanku: "Kita tinggalkan unta kita disini dan kita pergi mencari Abu Sufyan dan membunuhnya. Kalau kamu melihat sesuatu yang mengkhawatirkan, cepat-cepat pergi ke tempat unta itu dan kembali menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan ceritakan apa-apa yang telah terjadi kepadanya, tidak usah memikirkan aku'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki kota Mekkah. Aku menyandang sebilah Khanjar (belati). Aku sengaja persiapkan kepada siapa-sapa saja yang menghalang-halangiku. Rekanku berkata kepadanya, 'Apakah tidak sebaiknya kita Thawaf dahulu dan Shalat dua raka'at?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawabnya, 'Biasanya penduduk kota Mekkah duduk-duduk di halaman rumah mereka dan saya mengenali mereka'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami memasuki Baitullah, lalu kami thawaf dan shalat dua raka'at disana, kemudian kami keluar dan melewati tempat mereka duduk-duduk. Ternyata, sebagian dari mereka mengenaliku, lalu berteriak sekeras-kerasnya, 'Itu Amru bin Umayyah'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk kota Mekkah keluar mengejar kami dan berkata:' dia tidak datang melainkan utnuk melakukan suatu kejahatan'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata kepada rekanku, 'Selamatkan dirimu!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melarikan diri keatas gunung, lalu memasuki sebuah gua. Kami bermalam dua hari dua malam disana, menunggu keadaan tenang. Tiba-tiba Utsman bin Malik dengan menunggang kuda ada di pintu goa. Saya keluar dan menikamnya dengan khanjarku. Dia berteriak dengan sekeras-kerasnya sehingga penduduk Mekkah datang menghampirinya, sedangkan saya kembali bersembunyi. Mereka menemukannya sudah dalam keadaan sekarat. Mereka bertanya kepadanya, 'Siapa yang menikammu?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menjawab, 'Amru bin Umayyah,' lalu ia menghembuskan napas terakhirnya dan tak sempat memberitahukan kepadanya tempat persembunyianku. Kini mereka disibukan mengurusi mayatnya sehingga tidak sempat mencari tempat persembunyianku. Aku tinggal di gua itu dua hari lagi sampai keadaan menjadi benar-benar tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, kami keluar menuju Tan'im, suatu tempat yang tidak jauh dari Mekkah. Disana, saya menemukam mayat Khubaib tergantung diatas sebuah kayu; disekitarnya terdapat beberapa orang pengawal. Saya menurunkan mayatnya, lalu memanggulnya. Belum sampai empat puluh langkah dari tempatnya, mereka sadar dan mengejar saya. Saya meletakkan mayat Khubaib dan melarikan diri, sampai mereka tidak mengejarku lagi. Adapun rekanku telah kembali dengan mengendarai untanya dan menceritakan apa-apa yang dilihatnya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mengenai mayat Khubaib, sejak saat itu tidak terlihat lagi, seolah-olah telah di telan bumi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan bahwa Abu Sufyan berkata kepada Khubaib ketika hendak dibinihnya, "Ya Khubaib, maukah kau kalau menggantikan tempatmu sekarang, akan kami penggal batang lehernya sedangkan aku duduk dengan keluargaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan terheran-heran, "Belum pernah aku melihat ada seseorang yang mencintai seseorang lebih dari sahabat Muhammad mencintai Muhammad." Dia pun lalu dibunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menjadi takdir Allah Ta'ala bahwa Abu Sufyan tidak mati terbunuh. Misi 'Amru bin Umayyah gagal untuk membunuhnya. Abu Sufyan hidup dan berkesempatan untuk mengerahkan para kabilah Arab untuk memerangi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Kali ini, ia bertujuan untuk menyerang kota Madinah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mencium rencana jahat mereka, lalu baginda memerintahkan kaum muslimin untuk menggali parit sesuai dengan saran Salman al-Farisi radhiallâhu 'anhu. Begitu parit itu selesai digali, pasukan Quraisy dibawah pimpinan Abu Sufyan tiba, tetapi mereka tidak berhasil menerobos kota Madinah. Mereka mendirikan perkemahannya di luar parit itu. Pada saat itu, kaum muslimin menghadapi musuh baru dari Madinah yaitu kaum Yahudi. Pada waktu itu Huyai bin Ahthab datang menemui Ka'ab bin Asad, pimpinan baru Quraizhah. Dia sudah mengadakan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam atas nama kaumnya. Ia lalu menutup pintu bentengnnya dan tidak memberi izin kepada Huyai untuk memasukinya, seraya berkata, 'Kau seorang yang sial. Saya sudah mengadakan perjanjian dengan Muhammad dan ternyata dia tetap setia dengan perjanjiannya itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huyai menjawab, "wahai Ka'ab, saya datang membawa berita gembira dan kemuliaan abadi. Saya datang kepadamu dengan membawa pimpinan Quraisy dan Ghathafan. Mereka sudah berjanji kepadaku untuk tidak akan meninggalkan negeri ini sebelum menumpas Muhammad dan para sahabatnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ka'ab menjawab: "Kalau begitu, kau telah mengundang kehinaan abadi!" Celaka kau, wahai Huyai, biarkanlah aku bersama dengan Muhammad!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Huyai tidak membiarkan Ka'ab melepaskan diri dari cengkramanannya, sampai ia mau melanggar perjanjian yang telah dibuat dengan Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam . Dia mengadakan perjanjian dengan Huyai, "Kalau sampai Quraisy dan Ghathafan kembali dan tidak berhasil menumpas Muhammad, saya akan berjanji memasuki bentengmu dan hidup senasib dengan kau!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itu, kaum muslimin menderita ketakutan yang luar biasa karena harus menghadapi dua front: Quraisy dan Ghathafan dari luar serta Yahudi Bani Quraizhah dari dalam, seperti yang dilukiskan dalam Al-Qur'an:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"(Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ketenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat." (QS. Al-Ahzab: 10-11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malapetaka ini terjadi karena lebih dari dua puluh malam, kedua pasukan yang sudah berhadapan itu tidak dapat berbuat selain menggunakan panahnya masing-masing. Tiba-tiba Nu'aim bin Mas'ud al-Asyja'i datang menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku ini sudah masuk Islam, tetapi kaumku belum ada yang tahu. Perintahlah aku sesuka hatimu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Kamu hanya sendirian. Lakukanlah apa yang mungkin kamu lakukan untuk menyelamatkan kami karena peperangan itu tipu daya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu'aim lalu pergi menemui tokoh-tokoh bani Quraizhah. Kebetulan di zaman jahiliyyah, mereka bersahabat . Nu'aim berkata kepada mereka: "kalian sudah mengetahui hubungan baik antara aku dan kalian".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab: "Memang, kami tidak mempunyai kecurigaan sedikitpun terhadapmu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, sambungnya lagi, "Kalian telah membela Quraisy dan Ghathafan melawan Muhammad padahal mereka tidak senasib dengan kalian. Negeri ini adalah tanah airmu; disana terdapat kekayaan, anak-anak, dan isteri-isterimu, dan kalian tidak mungkin bisa meninggalkan semua itu, sedangkan Quraisy dan Ghathafan, kalau mereka melihat kemenangan, mereka akan ribut, kalau mereka melihat lain dari itu, mereka akan melarikan diri ke negeri mereka dan meninggalkan kalian menjadi makanan empuk Muhammad dan kalian pasti tidak akan sanggup melawannya. Janganlah kalian memeranginya sebelum kalian mendapat jaminan dari tokoh-tokoh mereka agar kalian yakin bahwa mereka tidak akan meninggalkan kalian sebelum mereka berhasil menumpas Muhammad".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menjawab, "Sungguh, nasihatmu itu tepat sekali!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nu'aim pergi menemui Abu Sufyan dan tokoh Quraisy lainya, seraya berkata, "Kalian sudan mengetahui hubungan baikku dengan kalian dan kerengganganku dengan Muhammad. Saya mendengar bahwa Bani Quraizhah menyesali tindakannya dan mereka telah mengirim delegasi kepada Muhammad dan menanyakan, 'Apakah Anda mau menerima kalau kami meminta jaminan tokoh-tokoh Quraisy dan Ghathafan, kemudian kami serahkan kepada Anda untuk dipenggal batang leher mereka, kemudian kami dan anda memperkuat persahabatan yang telah ada?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, tawaran mereka itu diterima baik. Jadi, kalau mereka meminta jaminan tokoh-tokoh kalian, janganlah kalian memenuhinyya meskipun hanya seorang saja".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nu'aim lalu pergi menemui pimpinan Ghathafan dan berkata, "Kalian terbilang keluarga dan familiku sendiri". Ia lalu memperingatkan mereka seperti yang disampaikan kepada pimpinan Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begiru Nu'aim pergi, Abu Sufyan mengirimkan delegasinya dibawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal untuk menemui pimpinan Bani Quraizhah, seraya berkata kepada mereka, "Kami tidak bisa berlama-lama di sini. Kita harus segera melancarkan peperangan untuk menumpas Muhammad".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata jawaban mereka persis seperti yang dikatakan Nu'aim, "Kami tidak bersedia berperang bersama dengan kalian kecuali kalau kalian mau memberi jaminan yang meyakinkan kepada kami. Kami khawatir, kalian akan segera kembali ke negeri kalian dan membairkan kami menjadi umpan Muhammad sedang kami berada di negerinya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Delegasi Ikrimah kembali dari perkampungan Bani Quraizhah dengan tangan hampa. Ia menyampaikan kepada Abu Sufyan semua yang didengarnya. Lalu, sambut Abu Sufyan, "Demi Allah benar sekali apa yang dikatakan Nu'aim bin Mas'ud!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan lalu mengirimkan jawaban tegas kepada Bani Quraiszah, Demi Allah kami tidak akan menyerahkan tokoh-tokoh kami seorangpun juga!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata tokoh Bani Quraizah yang menerimannya, "Sungguh tepat apa yang dikatakan Nu'aim bun Mas'ud kepada kami".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala mengacau-balaukan rencana jahat mereka, sementara itu, ke perkemahan Quraisy dan Ghathafan dikirimkan angin kencang yang memporak-porandakan kemah dan perlengkapannya, seperti yang dilukiskan Al-Qur'anul Karim:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikurniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya.Dan adalah Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Ahzab: 9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan kabur kembali dengan pasukannya ke Mekkah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pada saat itu bersabda, "Kini kami yang akan menyerang mereka dan mereka tidak akan menyerang kami lagi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu tepat sekali, perjanjian damai antara Quraisy dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam berhasil ditandatangani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kesempatan baik ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengirimkan surat dan delegasinya ke seluruh penjuru bumi, mengundang raja-raja dan kepala negaranya untuk masuk agama Islam. Diantara surat-suratnya itu ada yang dikirimkan kepada Heraclius, Kaisar Bizantium, yang dibawa oleh Dahyah al-Kullabi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, Kaisar bersedia menerima tawaran Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam itu, namun baginda khawatir terhadap reaksi rakyatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Heraclius ada di negeri Syam kebetulan banyak pedagang dari Mekkah sedang berdagang di sana. Mereka telah dihadapkan kepada baginda beberapa orang, antara lain Abu Sufyan. Heraclius mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepadanya seraya berkata: "Saya akan bertanya kepadamu. Kalau ia berbohong, sangkallah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan berkata mengenang peristiwa itu: "Kalau saya tidak khawatir dicap pembohong, tentu saya akan berbohong kepadanya. Saya ditanyai tentang Nabi, saya berusaha memperkecil perannya, namun baginda tidak menghiraukan keterangan saya itu, lalu tanyanya tiba-tiba:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimana kedudukan keluarganya di antara kalian?"&lt;br /&gt;"Keluarganya terbilang keluarga bangsawan".&lt;br /&gt;"Apakah ada diantara keluarganya yang mengaku Nabi?"&lt;br /&gt;"Tidak!".&lt;br /&gt;'Apakah ada hak-haknya yang pernah kalian rampas?"&lt;br /&gt;"Tidak".&lt;br /&gt;"Siapa para pengikutnya?"&lt;br /&gt;'Mereka terdiri atas para orang lemah, miskin, dan anak muda'.&lt;br /&gt;'Apakah para pengikutnya mencintai dan mematuhinya, atau meninggalkannya?"&lt;br /&gt;"Tidak ada yang mengikutinya lalu meninggalkannya".&lt;br /&gt;"Bagaimana peperangan yang terjadi antara dia dan kamu?"&lt;br /&gt;"Sekali kami menang dan sekali lagi dia yang menang".&lt;br /&gt;"Apakah dia pernah berbuat curang?"&lt;br /&gt;"Saya tidak pernah mencurigainya. Kini, kami sedang berdamai dengan dia, namun kami tidak saling curiga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heraclius berkata lagi: "Saya bertanya kepadamu tentang nasabnya, Anda mengatakan bahwa dia terbilang keluarga bangsawan dan begitulah para nabi umumnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepadamu, apakah ada diantara keluarganya yang mengaku nabi, Anda mengatakan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepadamu, apakah ada hak-haknya yang kalian rampas, lalu dia bangkit untuk menuntutnya, anda mengatakan tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepadamu tentang para pengikutnya, anda mengatakan mereka terdiri atas para mustadh'afiin dan fakir miskin, dan memang begitulah pengikut para rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepadamu tentang para pengikutnya, apakah mereka mencintainya atau meninggalkannya, anda mengatakan bahwa para pengikutnya mencintainya dan tidak ada yang meninggalkannya. Begitulah lezatnya keimanan apabila sudah memasuki kalbu seseorang, tidak akan sudi keluar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepadamu, apakah ia pernah melakukan kecurangan, anda menjawab tidak. Kalau Anda mau percaya, dia pasti akan menaklukkan bumi yang ada dibawah telapak kakiku ini. Rasanya aku ingin sekali mencuci kedua kakinya. Nah, kini, silahkan anda melakukan tugas-tugas Anda!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Abu Sufyan berkata: 'Aku keluar dari hadapan Kaisar Heraclius dengan rasa takjub, lalu berkata: 'Sungguh menakjubkan keadaan Ibnu Abi Kabsyah ini (yakni Muhammad). Kaisar Romawi merasa takut kekuasaannya akan terancam".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, mengapa Abu Sufyan tidak cepat masuk Islam? Apakah ia ragu-ragu akan kejujuran Muhammad?&lt;br /&gt;Raja Romawi tidak mengingkari kenabian Muhammad. Malah, kalau ia ada dihadapannya, tentu ia akan mencuci kedua kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, rintangan utama yang menghalang-halangi Abu Sufyan masuk Islam tidak lain hanyalah soal kekuasaan dan kewibawaan, yaitu kepemimpinan Quraisy. Dia Khawatir semuanya itu akan jatuh ke tangan Muhammad, sampai ada diantara mereka yang nekat berkata: "Ya Allah, jika betul (Al Qur'an) ini, dialah yang benar di sisi-Mu, maka hujanilah kami dengan batu dari langit atau datangkanlah kepada kami azab pedih". (QS.al-Anfaal: 32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata Allahlah yang menentukan segalanya itu. Abu Sufyan tidak lama memegang tampuk kepemimpinan atau tongkat komando. Sungguh benar apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa Quraisy sesudah perang Khandaq tidak akan mampu menyerang kaum muslimin lagi, tetapi giliran kaum musliminlah yang akan menyerang mereka untuk menaklukkan kota Mekkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benteng kaum kafir dan musyrik itu harus dikikis habis dari muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan mengetahui benar apa tujuan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menaklukkan kota Mekkah. Kali ini, ia pergi seorang diri tanpa pasukan menuju ke Medinah, tidak membawa senjata dan perlengkapan apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pergi ke Medinah dengan penuh rasa gelisah dan ketakutan. Setiba disana, ia langsung menemui putrinya, Ummu Habibah, isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ketika ia hendak duduk diatas permadani yang biasa di duduki oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, putrinya cepat-cepat menariknya dan menggulungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan marah sekali atas perlakuan putrinya itu dan berkata, "Apakah kau lebih menghargai permadani itu daripadaku?". Dia berkata lagi," Putriku, sungguh kamu sudah kerasukan setan!" Dia lalu keluar pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam namun beliau tidak mau menjawabnya sepatah katapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu keluar dan pergi menemui Abu Bakar, meminta agar ia mau membantunya memperlunak sikap Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam tetapi Abu Bakar radhiallâhu 'anhu menjawabnya dengan tegas, "Saya tidak dapat melakukannya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu pergi menemui Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhu melihat Abu Sufyan, ia cepat-cepat memasuki kemah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Dan memberitahukan hal itu seraya meminta, "Ya Rasulullah, berikanlah izin kepadaku untuk memenggal batang lehernya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas radhiallâhu 'anhu mendahuluinya dan berkata, "Ya Rasulullah, saya sudah melindungi dan menjaminya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu memerintahkan, "Bawa pergilah dia dan bawa kembalilah nanti siang. Kami sudah memberinya perlindungan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang harinya, Abbas membawa Abu Sufyan menghadap Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lagi, Rasulullah menegurnya, "Celaka kau, Wahai Abu Sufyan! Apakah kau belum juga mau sadar bahwa tiada tuhan selain Allah?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan menjawab: "Tentu, hal itu tidak dapat saya menyangkalnya sedikit pun".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menegurnya lagi, "Celaka kau Abu Sufyan, apakah kau belum juga sadar bahwa saya Rasul Allah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan menjawab, "Kalau soal ini, rasanya dalam jiwaku masih terdapat keberatan sedikit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas lalu membentaknya, "Celaka kau! Ucapkanlah syahadat dengan sebenarnya sebelum kepalamu berpisah dari tubuhmu" .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu mengucapkan syahadatain bersama dengannya; telah menyatakan islamnya juga: Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lalu menyuruh Abbas supaya menahan Abu Sufyan hingga usai parade militer, 'Tahan dia sampai melihat pawai tentara Allah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas berkata kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam : "Ya Rasulullah, sesungguhnya Abu Sufyan senang juga pada pujian. Berikanlah sesuatu yang ia bisa banggakan kepada kaumnya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "Siapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, aman; siapa yang memasuki rumah Hakim bin Hizam, aman; siapa yagn memasuki Masjidil Haram, aman; dan siapa yang menutup pintu rumahnya, dia juga aman!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Abbas bin Abdul Muththalib berkata, "Saya mengajak Abu Sufyan duduk diatas sebuah puncak gunung, lalu pawai tentara Allah itu mulai bergerak di hadapan kami, rombongan demi rombongan: Kabilah Aslam, Juhainah, barisan Muhajirin dan Anshar, dan seterusnya. Setelah Abu Sufyan melihat pameran kekuatan itu, ia berkata, 'Sungguh besar kerajaan anak saudaramu itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawabnya, 'Celaka kau. Ia bukan kerajaan, tetapi kenabian!'&lt;br /&gt;Abu Sufyan berkata, 'Benar juga!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abbas lalu memerintahkan kepada Abu Sufyan supaya segera kembali ke Mekkah dan memperingatkan kaumnya jangan sampai mereka melanggar perintah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan dan Hakim bin Hizam segera pulang kembali ke kota Mekkah. Setiba di Masjidil Haram, keduanya berteriak-teriak memanggil kaumnya, Wahai kaum Quraisy, pasukan Muhammad telah datang dengan kekuatan yang tidak terbilang besarnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya berkata lagi, "Siapa yang memasuki rumahku, dia akan aman; siapa yang memasuki Masjidil Haram, dia akan aman; siapa yang menutup pintunya, dia akan aman. Wahai kaum Quraisy, masuklah Islam, kalian akan selamat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala menakdirkan Abu Sufyan masuk Islam dan menjadi penyeru Islam. Orang yang selama bertahun-tahun menjadi panglima kaum musyrikin, kini sudah menjadi seorang tentara Allah. Ayah Mu'awiyah radhiallâhu 'anhu, penulis wahyu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kini sudah masuk Islam. Kini, ia ikut serta menyebarkan agama Islam ke seluruh penjuru bumi yang jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Ummu Habibah, isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam sudah masuk Islam. Ayah Yazid bin Abi Sufyan, kini sudah masuk Islam. Isterinya pun, yang dinyatakan sebagai salah seorang penjahat perang, telah masuk Islam juga, malah ia telah menghancur luluhkan berhala yang ada dirumahnya, seraya berkata, "Selama ini, kami tertipu oleh kamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Abu Sufyan berjalan mulus dalam pengkuan Islam. Sejarah tidak mencatat sesuatu yang berarti kecuali sesudah wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam ketika kaum Muhajirin dan Anshar mengadakan rapat di Saqifah Bani Saa'idah untuk memilih Khalifah kaum muslimin. Ali bin Abu Thalib radhiallâhu 'anhu tidak menghadiri bai'at itu karena sedang sibuk mengurus jenazah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam . Ternyata kaum muslimin telah memilih Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar adalah laki-laki pertama yang menyatakan beriman kepada dakwah Rasulullah, orang pertama yang mempercayainya ketika kembali dari Isra' dan Mi'raj. Ia berkata kepada orang membawa berita itu kepadanya, "Kalau dia (Muhammad) sudah mengatakan demikian, tentu beritanya itu benar!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia adalah kawan senasib dan sependeritaan dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam ketika berada dalam gua, ketika keduanya hendak berhijrah ke Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat-saat kritis seperti itu, Abu Sufyan tampil kepermukaan seraya berkata, "Tampaknya, melihat pencemaran yang sulit dihapus kecuali dengan darah, Wahai keturunan Abdi Manaf. Apa hak Abu Bakar menangani urusanmu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lalu datang kepada 'Ali bin Abi Thalib seraya mengulurkan tangannya dan berkata, "Ulurkan tanganmu, saya akan membai'atmu!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ali bin Abi Thalib membentaknya seraya berkata kepadanya, "Kamu tidak menghendaki dari perbuatan itu selain untuk membangkitkan fitnah. Saya tidak butuh nasihatmu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perang Yarmuk, ia ingin menebus semua dosanya terhadap Islam dan kaum muslimin. Ia berperang mati-matian sampai salah satu matanya tercongkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meninggal dunia pada tahun 33 Hijrah di usia 88 tahun pada zaman Khalifah Utsman bin Affan radhiallâhu 'anhu. Jenazahnya dishalati oleh putranya, Mu'awiyah, dan dikuburkan di Baqi'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab turunya ayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Muhammad bin Ishaq dan murid-muridnya, ketika Abu Sufyan berhasil menyelamatkan kafilah Quraisy dari Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam dan para sahabatnya, sementara tokoh-tokoh Quraisy yang ingin melindungi kafilah itu berhasil diterwaskan dalam perang Badar, maka timbullah inisiatif Abu Sufyan untuk mengobarkan peperangan yang lebih dahsyat terhadap kaum muslimin dengan mengerahkan pasukan yang lebih besar dan terlatih, dan menghimpun dana yang lebih banyak, termasuk hasil penjualan barang dagangan dari kafilah yang berhasil diselamatkannya itu. Ia berkata kepada kaumnya: "Wahai kaum Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membunuh tokoh-tokoh kalian maka dukunglah kami untuk menuntut balas dengan harta yang dapat kami selamatkan ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. Supaya Allah memisahkan (golongan) buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya diatas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahanam. Mereka itulah orang-orang yang merugi". (QS. Al-Anfaal: 36-37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Renungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirirwayatkan oleh 'Urwah bin az–Zubair bahwa Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam :"Ya Rasulullah, apakah engkau pernah merasa menghadapi kesulitan lebih dahsyat dari pada Perang Uhud?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau menajwab, "Aku telah menghadapi berbagai kesulitan yang lebih dahsyat dari kaummu, terutama ketika aku menawarkan Islam pada hari Aqibah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kulal, namun dia tidak menjawab sepatah katapun. Kemudian, aku pergi dengan perasan pedih dan sedih. Aku tidak sadar, tiba-tiba aku tiba di Qarnits Tsa'alib. Ketika aku mengangkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat awan sedang memayungiku dan mendengar Jibril memanggilku, 'Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mendengar omongan kaummu dan reaksi mereka terhadap tawaran-tawaranmu, dan Dia telah mengirimkan Raja Pegunungan kepadamu agar kamu memerintahkan kepadanya apa yang kamu inginkan terhadap kaummu itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam selanjutnya: "Lalu, Raja Pegunungan itu mengucapkan salam kepadaku dan berkata, 'Ya Muhammad, Allah Ta'ala telah mendengar omongan-omongan kaummu terhadapmu. Aku Raja Pegunungan, Rabbmu telah mengutusku kepadamu untuk diperintahkan sesuai dengan yang kamu inginkan. Kalau kamu mau, aku akan menimpakan pegunungan ini di atas mereka!'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab, 'Tidak, malah aku berharap Allah Ta'ala akan melahirkan dari mereka itu orang-orang yang akan menyembah Allah dan tidak musyrik sedikitpun kepada-Nya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa gerangan mereka selalu menghalang-halangi penyebaran dakwah dan menyakiti hati Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam itu? Siapa gerangan orang yang senantiasa menyiksa kaum mustadh'afin di Mekkah dan lain-lain, setelah mereka memaklumatkan Islamnya? Siapa gerangan mereka yang telah mengusir Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam keluar dari kampung halamannya dan menghalang-halangi penyebaran dakwahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah mencatat nama-nama mereka dan tidak akan melupakannya. Mereka telah mendongakkan kepalanya, menutup rapat pintu hatinya, memejamkan matanya sehingga tidak melihat cahaya kebenaran memancar di hadapannya, dan memalingkan perhatian dari tanda-tanda hidayah dan keimanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun tokoh-tokoh sesat yang paling terkenal di antara mereka ialah: Abu Jahal (al-Hakam bin Hisyam), Utbah bin Ra'biah, Syaibah bin Ra'biah, al-Walid bin Uqbah, Umayyah bin Khalaf, Uqbah bin Mu'ith dan Abu Sufyan bin Harb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam tidak mau mengutuk dan mendoakan kaumnya agar mendapat siksa seperti halnya umat para nabi yang terdahulu, setelah mereka tetap membangkang tidak mau menyambut dakwah para nabi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bisa saja meneladani para nabi yang sebelumnya, memohon kepada Rabbnya untuk menghukum kaumnya yang jahat dan angkara murka itu, namun baginda sebagai Nabiyur-rahmah hanya bisa mengucapkan: " semoga Allah akan melahirkan dari mereka keturunan yang mengabdikan diri kepada Allah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah telah mencatat juga kepada kita, berapa banyak dari keturunan mereka orang yang paling gigih memerangi Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dan agamanya. Begitu juga dengan orang yang telah ikut serta menyebarkan agama ini ke seluruh penjuru bumi. Mereka sebagai kaum muslimin, baik sebagai prajurit, panglima, maupun sebagai dai, telah berhasil menyampaikan agama tauhid ini kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah bin Abu Jahal radhiallâhu 'anhu sebagai contoh, ketika ia menemui Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk menyatakan Islamnya, ia disambut baginda, "Marhaban, selamat datang kepada sang musafir yang muhajir!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berkata, "Ya Rasulullah, ajarilah aku sesuatu yang terbaik yang baginda ketahui supaya aku mengucapkannya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan, "Ucapkanlah syahadatain!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikrimah radhiallâhu 'anhu mengucapkan syahadatain, lalu ia memohon ampun atas dosa-dosanya yang lalu dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pun memberinya ampun. Kemudian, ia menyatakan janji, "Demi Allah, berapa besar dana yang telah aku keluarkan selama ini untuk menghalang-halangi penyebaran agama Allah, kini aku akan menebusnya dengan pengeluaran yang serupa dalam upaya mengembangkan agamaNya; berapa besar kegigihanku untuk memenangkan agama dan penganut agama itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, kesaksianya itu ia penuhi dengan sebaik-baiknya. Ia berusaha menjadi ahli ibadah dan agama yang takwa, dan sekaligus menjadi pahalwan perang yang patut dibanggakan. Akhirnya, ia syahid dalam perang Yarmuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Khalid bin Walid radhiallâhu 'anhu, seperti yang dilukiskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam kepada para sahabatnya, ketika Khalid masuk Islam. Rasulullah bersabda, "Kota Mekkah telah melemparkan anak tersayangnya pada kalian!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Abu Bakar ash-Shidiq radhiallâhu 'anhu berkata: "Kaum wanita kita belum mampu melahirkan anak seperti Khalid!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam menggelarinya "Saifullah" (Pedang Allah) terhadap kaum kafir dan musyrik. Tidak ada yang berani di hadapannya untuk menghadang dakwah kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan Abu Sufyan, yang senantiasa menjadi pimpinan tertinggi Quraisy dalam memerangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan kaum uslimin, Allah Ta'ala berkenan kepadanya memberikan anak-anak yang besar jasanya dalam mengembangkan agama Allah, antara lain; Yazid bin Abi Sufyan yang digelari "Yazid al-Khair". Ia berperang di pihak Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam di Hunain dan mendapat kemenangan perang di sana sebanyak seratus unta dan empat puluh uqiya (ukuran emas) yang ditimbangkan oleh Bilal. Dalam pemerintahan Khalifah Abu Bakar, ia diangkat menjadi seorang pembantunya, dan ketika hendak pergi ke posnya, Khalifah mengantarnya dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantaranya juga Mu'awiyah bin Abu Sufyan, penulis wahyu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunnguh benar apa yang diramalkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa agama Islam akan dimasuki oleh banyak umat secara beramai-ramai dan berbondong-bondong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mana para tiran yang angkara murka itu? Mana mereka yang dengan gigih hendak menghalang-halangi penyebaran agama Allah itu? Mana para penguasa diktator yang mengangkat dirinya sebagai tuhan dimuka bumi, yang mendekatkan orang yang dicintainya, dan menyiksa serta menganiaya orang yang dibencinya meskipun tanpa salah dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana mereka itu sekarang? Mereka sudah pergi setelah menderita kekalahan, baik karena tewas, maupun terusir, sementara agama Allah Ta'ala tetap berjaya, panji kebenaran senantiasa berkibar-kibar dengan megah, sesuai dengan janji-Nya untuk dimenangkan di atas agama-agama yang lainnya (at-Taubah: 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah Ta'ala juga sudah berjanji, "Bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh". (al-Anbiyaa': 105)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ada diantara para tiran abad ke-21, para penguasa angkara murka yang merusak bumi dan merusak semua yang hidup diatasnya, yang mau merenunginya? Apakah mereka belum juga mau sadar bahwa pada akhirnya tentara Allah jugalah yang akan meraih kemenangan akhir? Apakah mereka masih saja belum sadar, sebelum berbagai musibah dan petaka datang bertubi-tubi menimpa mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kemenangan Allah sudah dekat sekali. Pada saat itu kaum mukminin akan bersuka cita atas kemenangan Allah itu.&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt;oase qalbu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-7822144421040479419?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/7822144421040479419/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abu-sufyan-bin-harb.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/7822144421040479419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/7822144421040479419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abu-sufyan-bin-harb.html' title='Abu Sufyan bin Harb'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-6183900008906924444</id><published>2010-01-23T20:35:00.002-08:00</published><updated>2010-12-15T05:35:41.891-08:00</updated><title type='text'>Adi bin Hatim At-Tha'i</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: #505050;"&gt;"Adi bin Hatim, Anda beriman saat mereka kafir, Anda patuh dan tunduk saat mereka inkar; Anda menepati janji soat mereka khianat, dan Anda datang saat mereka lari" (Ucapan Umar bin Khatthab)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun kesembilan hijriyah, beberapa Raja-raja Arab mulia mendekat kepada Islam sesudah mereka lari dari Islam. Hati mereka lembut menerima iman setelah menentang keras. Mereka menyerah, tunduk dan patuh kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam sesudah enggan. TersebutIah kisah 'Adi bin Hatim At-Tha'i yang pemurah seperti bapaknya.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Adi mewarisi kepemimpinan bapaknya. Karena itu suku Tha'i mengangkatnya jadi penguasa suku ter­sebut. Kaum Tha'i mengeluarkan seperempat harta mereka sebagai pajak yang diserahkannya kepada 'Adi, sebagai imbalan bagi kepemimpinannya memimpin suku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam memproklamirkan Da'wah Islam, bangsa 'Arab mendekat kepada Rasulullah suku demi suku. 'Adi melihat pengaruh Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam suatu ancaman yang akan melenyapkan kepemimpinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu dia memusuhi Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam dengan sikap keras. Padahal dia sendiri belum mengenal pribadi Nabi yang mulia itu. Dia benci kepada Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam sebelum bertemu dengannya. Hampir dua puluh tahun lamanya dia memusuhi Islam, sampai pada suatu hari hatinya lapang menerima da'wah yang hak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islamnya 'Adi mempunyai kisah tersendiri yang tak dapat dilupakannya. Karena itu marilah kita simak dia menceritakan kisahnya sendiri, kisah yang menarik dan patut dipercaya, 'Adi bercerita: Tidak seorang pun bangsa Arab yang lebih benci daripadaku terhadap Rasulullah, ketika aku mendengar berita dan kegiatan da'wahnya. Aku seorang pemimpin yang dihormati. Aku tinggal dengan kaumku dalam daerah kekuasaanku. Aku memungut pajak dari mere­ka seperempat dari penghasilan mereka, sama yang dilakukan raja-raja Arab yang lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu ketika aku mendengar da'wah Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam, aku membencinya. Ketika pengaruh dan kekuatan Rasulullah tambah besar, dan tentaranya tambah banyak tersebar di Timur dan di Barat negeri Arab, aku berkata kepada sahaya gembala untaku, "Hai, anak manis! Siapkan unta betina yang gemuk dan jinak, lalu tambatkan selalu di dekatku. Bila kamu dengar lentara Muhammad atau ekspedisinya menjejakkan kaki di negeri ini, beritahukan kepadaku segera!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada suatu pagi sahayaku datang mengha­dap kepadaku. Katanya: "Wahai Tuanku! Apa yang akan Tuanku perbuat bila tentara berkuda Muhammad datang ke negeri ini, maka lakukanlah sekarang!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyaku, "Mengapa?"&lt;br /&gt;Jawabnya, "Hamba melihat beberapa bendera sekeliling kampung. Lalu kutanya bendera apa itu. Jawabnya, itulah bendera tentara Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kuperintahkan kepada sahayaku, "Siapkan unta yang kuperintahkan kepadamu, bawa kemari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bangkit ketika itu juga memanggil istri dan anak-anakku untuk segera berangkat ke negeri yang kami anggap aman, (Syam). Disana kami bergabung dengan orang-orang seagama dengan kami dan bertempat tinggal di rumah mereka. Aku terburu-buru mengumpulkan semua keluargaku. Setelah melewati tempat yang mencemaskan, ternyata ada di antara ke­luargaku yang tertinggal. Saudara perempuanku tertinggal di negeri kami Nejed beserta penduduk Tha'i yang lain-lain. Tidak ada jalan lain bagiku mendapatkannya kecuali kembali ke Tha'i. Aku terus berjalan dengan rombonganku sampai ke Syam dan menetap di sana di tengah-tengah penduduk yang seagama denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudara perempuanku kubiarkan tertinggal di Tha'i, tetapi mencemaskan hatiku .&lt;br /&gt;Sementara berada di Syam aku mendapat berita, tentara berkuda Muhammad menyerang negeri kami. Saudara perempuanku tertangkap beserta sejumlah wanita menjadi tawanan. Kemudian mereka di bawa ke Yatsrib. Di sana mereka di tempatkan dalam sebuah penjara dekat pintu masjid. Ketika Rasulullah lewat, saudaraku menyapa, "Ya Rasulullah! Bapakku telah binasa. Yang menjaminku telah lenyap. Maka Iimpah­kanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya Rasulullah, "Siapa yang menjamin engkau?"&lt;br /&gt;Jawab Saudaraku, "Adi bin Hatim!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Rasulullah, "Dia lari dari Allah dan Rasul-Nya" Sesudah berkata begitu, Rasulullah pergi meninggal­kannya, Besok pagi Rasulullah lewat pula dekat sauda­raku. Saudaraku berkata pula seperti kemarin kepada beliau. Dan beliau menjawab seperti kemarin pula. Hari ketiga ketika Rasulullah lewat, saudaraku lupa menyapa beliau dan tidak berkata apa-apa kepadanya. Seorang laki-Iaki memberi isyarat kepada saudaraku supaya menyapa beliau. Saudaraku berdiri mengham­piri Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah! Bapakku telah meninggal. Yang menjaminku telah lenyap. Maka limpahkanlah kepadaku karunia yang dikaruniakan Allah kepada Anda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab Rasulullah, "Saya penuhi permintaanmu!"&lt;br /&gt;Kata saudaraku, "Saya ingin pergi ke Syam menemui keluargaku di sana."&lt;br /&gt;Kata Rasulullah, "Tetapi engkau jangan terburu­-buru pergi ke sana, sebelum engkau mendapatkan orang yang dapat dipercaya dari kaum engkau untuk mengan­tarmu. Bila engkau telah mendapatkan orang yang diper­caya beritahukan kepada saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Rasulullah pergi, Saudaraku menanyakan siapa laki-laki yang memberi isyarat kepadanya supaya menyapa Rasulullah. Dikatakan orang kepadanya, orang itu ialah, AIi bin Abi Thalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaraku tinggal di Madinah sebagai tawanan sampai datang yang dipercaya untuk membawanya ke Syam. Setelah orang itu datang, dia memberitahu ke­pada Rasulullah. Katanya, "Ya, Rasulullah! Telah datang serombongan kaumku yang dipercaya dan mereka menyanggupi mengantarku. Rasulullah memberi sauda­raku pakaian, unta untuk kendaraan dan belanja secu­kupnya. Maka berangkatlah dia beserta rombongan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'Adi selanjutnya, "Kami selalu mencari-cari berita tentang saudaraku itu dan menunggu-nunggu kedatangannya. Kami hampir tidak percaya apa yang diberitakan kepada kami tentang Muhammad dengan segala kebaikan beliau terhadap saudaraku, di samping rasa megahku kepada beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi Allah! Pada suatu hari ketika aku sedang duduk di lingkungan keluargaku, tiba-tiba muncul seo­rang wanita dalam hawdaj (sekedup) menuju ke arah kami. Kataku, "Nah, itu anak perempuan Hatim!" Dugaanku itu betul. Dia adalah saudaraku yang ditunggu-tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah turun dari kendaraan, dia segera menghampiriku seraya berkata, "Anda tinggalkan kami, Anda dzalim! Istri dan anak-anak Anda, Anda bawa. Tetapi bapak dan saudara perempuan Anda, serta yang lain­-lain Anda tinggalkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabku, "Hai, adikku! Janganlah berkata begitu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berhasil memenangkannya. Setelah itu kuminta dia menceritakan pengalamannya. Selesai bercerita, aku berkata kepadanya, "Engkau wanita cerdik dan pintar. Bagaimana pendapatmu tentang orang yang bernama Muhammad itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya, "Menurut pendapatku, demi Allah se­baiknya Anda temui dia segera. Jika dia Nabi maka yang paling dahulu mendatanginya beruntunglah dia. Dan jika dia raja, tidak ada hinanya Anda berada di sampingnya. Anda adalah seorang raja pula."&lt;br /&gt;Kata 'Adi, "Maka kusiapkan perlengkapanku, lalu aku pergi ke Madinah menemui Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam. Tanpa Iman dan Kitab aku mendengar berita bahwa beliau pernah berkata, "Sesungguhnya saya berharap semoga 'Adi bin Hatim masuk Islam di hadapan saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk ke majlis Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sedang berada dalam masjid. Aku memberi salam kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar salamku beliau bertanya, "Siapa itu?" Jawabku, "Adi bin Hatim!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah berdiri menyongsongku. Beliau meng­gandeng tanganku lalu dibawanya aku ke rumahnya. Ketika beliau membawaku, tiba-tiba seorang wanita tua yang dha'if sedang menggendong seorang bayi, menemuinya minta sedekah. Wanita tua itu berbicara dengan beliau mengatakan kesulitan hidupnya. Beliau berhenti mendengarkan bicara wanita itu sampai sele­sai. Dan aku pun tegak menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata kepada diriku, "Demi Allah! Ini bukan kebiasaan raja-raja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menggandeng tanganku dan ber­sama-sama denganku sampai ke rumah beliau. Tiba di rumah, beliau mengambil sebuah bantal kulit yang diisi dengan sabut kurma, lalu diberikannya kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata beliau, "Silakan Anda duduk di atas bantal ini!" Aku malu. Karena itu aku berkata, "Andalah yang pantas duduk di situ." Jawab Rasulullah, "Anda lebih pantas." Aku menuruti kata beliau. Lalu aku duduk di atas bantal. Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam duduk di tanah, karena tidak ada lagi bantal lain selain satu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berkata dalam diriku, "Demi Allah! lni bukan kebiasaan raja-raja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menoleh kepadaku seraya ber­kata, "Hai 'Adi! Sudahkah Anda membanding-banding agama yang Anda anut, antara Nasrani dan Shabiah?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;awabku, "Sudah!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya beliau, "Bukankah Anda memungut pajak dari rakyat Anda seperempat penghasilan mereka. Bukankah itu tidak halal menurut agama Anda?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabku, "Betul!" Sementara itu aku telah yakin Muhammad ini sesungguhnya Nabi dan Rasul Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau berkata pula, "Hai 'Adi! Agaknya Anda enggan masuk agama Islam karena kenyataan yang Anda lihat tentang kaum muslimin, mereka miskin. Demi Allah! Tidak lama lagi harta akan berlimpah ruah di kalangan mereka, sehingga susah didapat orang yang akan manerima sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau barangkali Anda Hai 'Adi enggan masuk agama ini karena kaum muslimin sedikit jumlahnya sedangkan musuh-musuh mereka banyak. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar berita seorang wanita dari Qadisiyah mengendarai unta ke Baitullah tanpa takut kepada siapa pun selain kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin juga Anda enggan masuk Islam ka­rena ternyata raja-raja para Sulthan terdiri dari orang-­orang yang bukan Islam. Demi Allah! Tidak lama lagi Anda akan mendengar Istana Putih di negeri Babil (Iraq) direbut kaum muslimin, dan kekayaan Kisra bin Hurmuz pindah menjadi milik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertanya kagum, "Kekayaan Kisra bin Hur­muz?" Jawab beliau, "Ya, kekayaan Kisra bin Hurmuz."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'Adi, "Maka seketika itu juga aku mengucap­kan dua kalimah syahadat di hadapan beliau dan aku menjadi muslim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Adi bin Hatim dikaruniai Allah usia panjang. 'Adi bercerita lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua perkara yang dikatakan Rasulullah sudah terbukti kebenarannya. Tinggal lagi yang ketiga. Namun itu pasti terjadi. Aku telah menyaksikan seorang wanita berkendaraan unta datang dari Qadisyiah tanpa takut kepada siapa pun, sehingga dia sampai ke Baitullah. Dan aku adalah tentara berkuda yang pertama-tama menyerang masuk ke gudang perbendaharaan Kisra dan merampas harta kekayaannya. Aku bersumpah demi Allah, yang ketiga pasti akan terjadi pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah pasti membuktikan setiap perkataan Nabi-Nya yang mulia. Peristiwa yang ketiga terjadi pada masa pemerintahan 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, Yakni ketika ke­makmuran merata di kalangan kaum muslimin. Ketika itu setiap orang mencari-cari dengan susah payah orang yang berhak menerima zakat hartanya. Tetapi mereka tidak mendapatkan orang yang mau menerimanya, karena kaum muslimin hidup berkecukupan seluruh­nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar ucapan Rasulullah dan tepat pula sumpah yang diucapkan 'Adi bin Hatim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah memberikan keridhaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Shuwar min Hayaati Ash-Shahaabah (&lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt;oase qalbu&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-6183900008906924444?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/6183900008906924444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/adi-bin-hatim-at-thai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6183900008906924444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6183900008906924444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/adi-bin-hatim-at-thai.html' title='Adi bin Hatim At-Tha&apos;i'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-3548588017246674574</id><published>2010-01-23T20:35:00.001-08:00</published><updated>2010-12-15T05:37:47.181-08:00</updated><title type='text'>Abu Sufyan bin Harits</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: #505050;"&gt;Habis Gelap terbitlah Terang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut ... !&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperangan yang dilancarkan terhadap Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian. Dan waktu ditanyakan ke mana tujuannya, jawabnya ialah:&lt;br /&gt;"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul'alamin .. . !"&lt;br /&gt;Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ke tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan serempak Abu Sufyan bersama puteranya berseru:&lt;br /&gt;"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah . Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pun menjawab:&lt;br /&gt;"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Abu Sufyan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah hanya sekejap saat…! Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatu pun dan tidak terhalang oleh suatu pun…!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur di samping Kaum Muslimin -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul'alamin ... !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannya selama ini....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib ... !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling .... Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini ... ? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya: -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Warga Ka'ab dan 'Amir sama mengetahui&lt;br /&gt;Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai&lt;br /&gt;Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati&lt;br /&gt;Menejuni api peperangan tak pernah nyali&lt;br /&gt;Semata mengharapkan keridla;in Ilahi&lt;br /&gt;Yang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya... !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku sedang menyiapkan kuburku ....".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: -- "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikit pun daku berlumur dosa...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini ...&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt;oase qalbu&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-3548588017246674574?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/3548588017246674574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abu-sufyan-bin-harits.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/3548588017246674574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/3548588017246674574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/abu-sufyan-bin-harits.html' title='Abu Sufyan bin Harits'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-5654108036177501675</id><published>2010-01-23T20:26:00.000-08:00</published><updated>2010-01-23T23:30:40.366-08:00</updated><title type='text'>Ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi</title><content type='html'>&lt;span class="content" style="color: rgb(80, 80, 80);"&gt;Ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi merupakan pemimpin kabilah Daus pada masa Jahiliah. la juga salah seorang yang terpandang di kalangan Arab dan salah seorang bangsawan yang berwibawa. Api dapurnya selalu mengepul dan jalan selalu terbuka untuk­nya. Ia senang memberi makan orang yang lapar, melindungi orang yang takut, dan memberi upah para pekerja. Di samping itu, ia juga seorang yang sopan, cerdas, dan pintar, penyair yang halus perasaannya, jelas, dan manis perkataannya. Seolah-olah kalimat-­kalimat yang keluar dari mulutnya seperti sihir.&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail meninggalkan kampungnya, Tihamah, menuju Mekah. Ketika itu terjadi pergolakan antara Rasul yang mulia dengan kaum kafir Quraisy. Masing-masing menginginkan ke­menangan dan berusaha mencari pendukung. Rasul Sholallahu ‘alaihi wasalam berdoa kepada Rabbnya dan senjatanya adalah iman dan kebenaran, sedangkan kafir Quraisy berusaha untuk menyebarkan ajakan mereka dengan pedang dan menghalangi manusia mengikuti Muhammad dengan segala cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail merasa dirinya memasuki pertempuran ini tanpa persiapan apa pun dan tanpa ia sengaja. Padahal ia tidak pergi menuju Mekah dengan tujuan itu dan tidak pernah terlintas di pikirannya mengenai pertentangan antara Muhammad dan kafir Quraisy. Akibatnya, pertempuran itu pun menjadi kenangan yang tak pernah terlupakan bagi ath-Thufail bin Amr ad-Dausi. Marilah kita dengar urutan kisahnya yang menakjubkan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail mengisahkan bahwa pada suatu hari ia menginjakkan kaki di Mekah. Tidak seorang pemimpin Quraisy pun mengenalku hingga mereka menemuiku dan menyambut kedatanganku dengan meriah. Mereka memuliakanku sebagaimana mereka memuliakan para pemimpin mereka. Kemudian, para pemimpin dan pembesar Quraisy berkumpul bersamaku. Mereka berkata, "Ya Thufail, engkau telah datang ke negeri kami. Ada seorang laki-laki yang menyatakan dirinya adalah seorang Nabi. Ia telah menyusahkan urusan kami dan memecah belah kami. Kami amat takut hal ini juga terjadi di kaummu sebagaimana yang kami alami sekarang. Maka, janganlah engkau pernah berbicara dengannya. Janganlah engkau dengarkan perkataannya. Sesungguhnya, ia memiliki ucapan seperti sihir yang dapat memisahkan antara seorang anak dan bapaknya. Antara saudara dan saudaranya yang lain. Antara seorang istri dan suaminya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail mengatakan, "Demi Allah, mereka selalu menceritakan keadaannya yang menakjubkan itu kepadaku, menakut-nakutiku, kaumku dengan perbuatannya, sehingga aku pun terpengaruh untuk tidak mendekatinya, tidak berbicara dengannya, dan tidak mendengarkan ucapannya sedikitpun. Ketika aku pergi ke masjid untuk tawaf di sekeliling Ka'bah dan meminta berkah dari berhala-berhala yang selalu kami agungkan dan kami berhaji untuknya, aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar ucapan Muhammad. Akan tetapi, tatkala aku memasuki masjid, aku melihat seseorang sedang shalat di sisi Ka'bah dengan shalat yang berbeda dengan tata cara shalat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melakukan ibadah yang berbeda dengan tata cara ibadah kami. Pemandangan itu membuatku senang. Ibadahnya menakjubkanku dan aku merasa diriku lebih rendah daripadanya. Sedikit demi sedikit, tanpa kusadari, aku mendekatinya. Dan Allah menjadikan telingaku mendengar sebagian ucapannya. Aku pun mendengar suatu ucapan yang amat baik. Aku pun berkata di dalam hatiku, "Ibumu telah menghilangkanmu dengan kematian, ya Thufail. Padahal engkau adalah seorang penyair yang cerdas dan pintar. Mengapa engkau tidak dapat membedakan yang jelek dari yang baik. Apa yang menghalangimu mendengar perkataannya? Jika yang dibawanya itu kebaikan hendaklah engkau terima, jika jelek hendaklah engkau tinggalkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ath-Thufail tetap berada di sana hingga Rasulullah pergi dari Baitullah. Ia pun membuntutinya sampai ke rumahnya. Ketika ia masuk rumah, ia pun ikut masuk, lalu berkata, "Ya Muhammad, kaummu telah menceritakan kepadaku tentangmu semuanya. Demi Allah, mereka selalu menakut-nakutiku dengan perbuatanmu sehingga aku menutup telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataanmu. Tetapi Allah tetap memperdengarkan ucapanmu ke telingaku. Dan aku mendengar sesuatu yang baik, maka katakanlah semuanya kepadaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Muhammad pun mengatakan semuanya, beliau membacakan surah al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah, ath-Thufail telah mendengar perkataan yang lebih baik daripada perkataannya dan ia tidak melihat suatu urusan pun yang lebih adil daripada urusannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, ia membentangkan telapak tangan kepadanya dan bersaksi bahwa tiada ilah (tuhan) melainkan Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, dan ia pun memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ath-Thufail menetap di Mekah beberapa saat. Ia belajar darinya ajaran Islam dan menghafal ayat Al-Qur'an yang mudah baginya. Tatkala ia berniat untuk kembali ke kaumnya, ia berkata, "Ya Rasulullah, aku adalah seseorang yang ditaati dalam lingkunganku. Aku akan kembali kepada mereka dan mengajak mereka untuk memeluk Islam. Berdoalah kepada Allah agar menjadikan bagiku tanda yang akan membantuku mengajak mereka."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah pun langsung berdoa, "Ya Allah, jadikanlah baginya sebuah tanda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ath-Thufail mendatangi kaumnya. Tatkala ia berdiri di hadapan mereka, terpancarlah cahaya di antara kedua matanya seperti lampu pelita. Ia berkata, "Ya Allah, jadikanlah pelita bukan pada wajahku, karena aku khawatir kaumku mengira terjadi sesuatu di wajahku karena meninggalkan agama mereka. Maka pindahkanlah pelita itu ke ujung cambukku, sehingga manusia berlomba-lomba melihat cahaya di cambukku itu seperti lampu yang tergantung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia menemui mereka di lembah. Tatkala ia turun, bapaknya yang sudah tua menemuinya. Lalu ath-Thufail berkata, "Wahai Bapakku, menjauhlah dariku, aku tidak lagi berada dalam agamamu dan engkau tidak berada dalam agamaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayahnya berkata, "Ada apa wahai anakku tersayang?" Ath-Thufail menjawab, "Aku telah memeluk Islam dan mengikuti agama Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasalam .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ayahnya berkata lagi, "Wahai anakku, agamamu adalah agamaku juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ath-Thufail berkata, "Sekarang pergilah, mandi dan bersihkanlah pakaianmu, kemudian datanglah kepadaku agar aku ajarkan apa yang aku ketahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ayahnyapun pergi, mandi, dan membersihkan pakaiannya. Tidak lama kemudian, ia menemui ath-Thufail dan ia mengajarkannya tentang Islam dan akhirnya, ayahnya pun memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah istrinya juga datang menemuinya, ia berkata, "Wahai istriku, menjauhlah dariku. Aku tidak dalam agamamu dan engkau tidak dalam agamaku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu istrinya tersebut berkata, "Demi Bapak dan Ibumu, ada apa wahai suamiku?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail menjawab, "Islam telah memisahkan agama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telah memeluk Islam dan mengikuti agama Muhammad Sholallahu ‘alaihi wasalam .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu istrinya berkata, "Agamamu adalah agamaku juga." Ath-Thufail berkata, "Sekarang pergilah dan bersihkan dirimu dari air Dzul Syaara."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya pun berkata, "Demi Bapak dan Ibumu, apakah engkau takut kepada Dzul Syaara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ath-Thufail berkata, "Celaka engkau, wahai istriku, dan Dzul Syaara. Pergilah dan bersihkanlah dirimu di tempat yang jauh dari manusia. Aku akan melindungimu dari batu berhala itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian istrinyapun pergi dan membersihkan dirinya. Kemudian ia datang menemui ath-Thufail kembali dan ia mengajarkannya Islam dan akhirnya istrinya pun memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ath-Thufail baru mengajak kaumnya, bani Daus, untuk memeluk Islam. Akan tetapi, mereka amat lambat menerima ajakannya, kecuali Abu Hurairah. Ia merupakan orang yang paling cepat menerima ajakannya untuk memeluk Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ath-Thufail bersama Abu Hurairah datang menemui Rasulullah di Mekah. Nabi Sholallahu ‘alaihi wasalam berkata kepadanya, "Bagaimana dakwahmu, wahai Thufail?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab, "Di hati mereka ada penyakit dan kekafiran yang mendalam. Mereka (bani Daus) telah dikuasai oleh kefasikan dan kemaksiatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam berdiri, berwudhu, kemudian shalat dan berdoa kepada Allah. Abu Hurairah berkata, "Sungguh, aku belum pernah melihat amal itu sebelumnya. Aku takut ia mendoakan kejelekan bagi kaumku hingga mereka semua binasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail berkata, "Jangan khawatir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam mulai berdoa, "Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus. Ya Allah, berilah hidayah bagi kaum Daus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian beliau menoleh kepada Thufail dan berkata, "Kembalilah ke kaummu. Berlaku sopanlah kepada mereka, lalu ajak mereka kepada Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ath-Thufail selalu berada di bumi Daus dan mengajak kaumnya kepada Islam hingga Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam hijrah ke Madinah, selesai Perang Badar, Uhud, dan Khandaq. Lalu ath-Thufail menemui Rasul Sholallahu ‘alaihi wasalam setelah mengislamkan delapan puluh rumah dan mengajarkan mereka. Mendengar hal itu, Rasulullah pun sangat senang, sehingga beliau memberi bagian ghanimah hasil Perang Khaibar. Ath-Thufail berkata, "Ya Rasulullah, jadikanlah kami pasukanmu yang sebelah kanan dalam setiap perangmu, dan namailah kami dengan 'Mabrur'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, ath-Thufail selalu bersama Nabi hingga terjadinya Fathu Mekah. Ath-Thufail berkata, "Ya Rasulullah, utuslah aku kepada 'Dzul Kaffain' berhala Amr bin Hamamah, agar aku membakarnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullahpun mengizinkannya. Kemudian ia berangkat menuju berhala itu bersama pasukan dari kaumnya. Tatkala ia sampai dan hendak membakarnya, para wanita, anak-anak, dan kaum laki-laki telah mengelilinginya untuk mencelakakannya. Mereka menunggu seruan bahwa "Dzul Kaffain" sedang dalam bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, ath-Thufail tetap pergi menuju letak berhala itu di hadapan para penyembahnya. Ath-Thufail geram melihat berhala itu dan berkata dengan lantang, "Wahai Dzul Kaffain, aku bukanlah penyembahmu. Kelahiran kami lebih duluan dari kelahiranmu. Aku akan membakarmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala api telah membakar berhala itu beserta berhala-berhala lainnya yang ada di bani Daus, akhirnya kaum itu memeluk Islam dan menjalankan ajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi senantiasa bersama Nabi hingga beliau dipanggil Rabbnya ke sisi-Nya. Ketika kekhilafahan dipegang oleh Abu Bakar, ath-Thufail beserta keluarganya tunduk dan taat kepada khalifah Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.. Tatkala timbul gerakan para murtaddin (mereka yang keluar dari Islam), ath-Thufail bersama anaknya, Amr, juga ikut serta dalam memerangi Musailamah al-Kadzdzab. Ketika dalam perjalanan menuju al-Yamamah, ia bermimpi. Ia berkata kepada teman-temannya, "Semalam aku bermimpi, ceritakan kepadaku ta'birnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertanya, "Engkau bermimpi apa semalam?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ath-Thufail berkata, "Aku bermimpi bahwa kepalaku telah dicukur habis. Lalu keluar seekor burung dari mulutku dan ada seorang perempuan berusaha memasukkan diriku ke dalam perutnya, tapi anakku Amar meminta ikut bersamaku tetapi ia tidak berdaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu temannya berkata, "Itu pertanda baik bagimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ath-Thufail berkata, "Demi Allah, aku juga telah menakwilkan mimpi itu, bahwa kepalaku dicukur, itu berarti kepalaku dipenggal. Adapun burung yang keluar dari mulutku adalah ruhku, sedangkan wanita yang berusaha memasukkanku ke perutnya adalah bumi yang digali untuk menguburkanku. Aku ingin sekali terbunuh dalam keadaan syahid. Adapun anakku yang meminta ikut bersamaku adalah bahwa ia juga ingin mati syahid, tetapi insyaaAllah ia akan menemuinya setelah itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Perang Yamamah berkecamuk, sahabat mulia ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi akhirnya syahid terbunuh, sedang anaknya, Amr tetap berperang hingga ia terluka parah, tangan kanannya putus. Setelah perang usai, ia kembali ke Madinah meninggalkan ayah dan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa kekhalifahan Umar ibnul Khaththab, Amr bin Thufail datang menemui Umar dengan membawa makanan. Para sahabat yang lain duduk di sekelilingnya, kemudian ia mengajak hadirin untuk mencicipi makanannya. Ia merasa amat senang. la berkata kepada Umar al-Faruq, "Ya Amirul Mu'minin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar berkata, "Demi Allah, sungguh aku tidak merasakan enaknya makanan ini sampai engkau mengadukkannya dengan tanganmu yang buntung. Demi Allah, tiada seorang pun dari sebagian kaum ini yang akan masuk surga kecuali engkau (Umar bermaksud karena tangannya)."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Amr pun selalu mendambakan syahid semenjak bapaknya syahid. Maka ketika terjadi Perang Yarmuk, Amr ikut di dalam peperangan itu. Ia semangat berperang melawan musuh hingga akhirnya ia menemui syahid menyusul bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah merahmati ath-Thufail bin Amr ad-Dausi. Ia merupakan seorang syahid dan bapak syuhada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: shuwar min hayati ash-ashahaabah (&lt;a href="http://www.oaseislam.com/modules.php?name=News&amp;amp;new_topic=6"&gt;oase qalbu&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-5654108036177501675?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/5654108036177501675/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/ath-thufail-ibnul-amr-ad-dausi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/5654108036177501675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/5654108036177501675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2010/01/ath-thufail-ibnul-amr-ad-dausi.html' title='Ath-Thufail ibnul Amr ad-Dausi'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-6256753362076664977</id><published>2009-08-22T20:56:00.000-07:00</published><updated>2010-12-15T05:36:27.181-08:00</updated><title type='text'>Utsman bin Affan</title><content type='html'>Utsman bin Affan ra, adalah seorang yang bertakwa, selalu bersikap wara'. Tengah malam tak pernah ia sia-siakan. la memanfaatkan waktu itu untuk mengaji Al-Quran dan setiap tahun ia menunaikan ibadah haji. Bila sedang berzikir dari matanya mengalir air mata haru. la selalu bersegera dalam segala amal kebajikan dan kepentingan umat. la juga dermawan dan penuh belas kasih. la telah melaksanakan hijrah sebanyak dua kali, pertama ke Habasyah, dan yang kedua ke Madinah. Laknat dan kutukan Allah bagi siapa saja yang membenci Utsman ra. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada akhir tahun 34 hijriyah, pemerintahan Islam. dilanda fitnah. Yang menjadi sasaran fitnah adalah Utsman ra sampai mengakibatkan beliau terbunuh pada tahun berikutnya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Fitnah yang keji datang dari Mesir berupa tuduhan-tuduhan palsu yang dibawa oleh orang-orang yang datang hendak umrah pada bulan Rajab. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ali bin Abi Thalib ra mati-matian membela Utsman dan menyangkal tuduhan mereka. Ali menanyakan keluhan dan tuduhan mereka, yang.segera di jawab oleh mereka, "Utsman telah membakar mushaf-mushaf, shalat tidak diqasar sewaktu di Mekkah, mengkhususkan sumber air untuk kepentingan dirinya sendiri dan mengangkat pejabat dari kalangan generasi muda. la juga mengutamakan segala fasilitas untuk Bani Umayyah (golongannya) melebihi orang lain." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pada hari Jum'at, Utsman berkhutbah dan mengangkat tangannya seraya berkata, "Ya Allah, aku beristighfar dan bertaubat kepadamu. Aku bertaubat atas perbuatanku." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ali ra menjawab, "Mushaf-mushaf yang dibakar ialah yang mengandung perselisihan dan yang ada sekarang ini adalah yang disepakati bersama kesahannya. Adapun salat yang tidak di qasar sewaktu di Mekkah, adalah karena dia berkeluarga di Mekkah dan dia berniat tinggal di sana. Oleh karena itu salatnya tidak diqasar. Adapun sumber air yang dikhususkan itu adalah untuk ternak sodakoh sampai mereka besar, bukan untuk ternak unta dan domba miliknya sendiri. Umar juga pernah melakukan ini sebelumnya. Adapun mengangkat pejabat dari generasi muda, hal ini dilakukan semata-mata karena mereka mempunyai kemampuan di bidang-bidang tersebut. Rasulullah juga pernah melakukan ini hal yang demikian. Adapun dia mengutamakan kaumnya, Bani Umayyah, karena Rasulullah sendiri menda-hulukan qurasy dari pada bani lainnya. Demi Allah kalau kunci surga di tanganku, aku akan memasukkan Bani Umayyah ke surga." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Setelah mendengar penjelasan Ali ra umat Islam pulang dengan rasa puas. Tapi para peniup fitnah terus melancarkan fitnahan-fitnahan dan merencanakan makar jahatnya. Di antara mereka ada yang menyebarkan tulisan dengan tanda tangan palsu dari pada sababat termuka yang menjelek-jelekkan Utsman. Mereka juga menuntut agar Utsman dibunuh. &lt;/div&gt;Fitnah kejipun terus menjalar dengan kejamnya, sebagian besar umat termakan fitnahan-fitnahan tersebut hingga teriadinya pembunuhan atas dirinya, setelah sebelumnya terkepung selama satu bulan di rumahnya. Peristiwa inilah yang disebut dengan "Al Fitnah al Kubra" yang pertama, hingga merobek persatuan umat Islam&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sumber : &lt;a href="http://zulfi19.cybermq.com/post/detail/5095/utsman-bin-affan---kebaikannya-tidak-menghindarkannya-dari-fitnah"&gt;cyber mq&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/ahmad_dir/sahabat/index.html" style="color: #33ff33;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-6256753362076664977?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/6256753362076664977/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/utsman-bin-affan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6256753362076664977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6256753362076664977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/utsman-bin-affan.html' title='Utsman bin Affan'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-6637943549691830053</id><published>2009-08-22T20:38:00.000-07:00</published><updated>2010-12-15T05:36:41.381-08:00</updated><title type='text'>Abdurrahman bin Auf</title><content type='html'>Pedagang Besar Yang Sukses &lt;br /&gt;I. Orang Ketujuh dari Kesepuluh Orang yang Dikabari Masuk Surga&lt;br /&gt;Abdurrahamn bin Auf adalah kawan akrab Abu Bakar Assidiq ra. oleh karena itu ketika Abu Bakar menawarkan Islam kepadanya, Abdurrahman langsung menerimanya.&lt;br /&gt;Dalam sejarah Islam, ia dicatat sebagai orang ke delapan yang pertama masuk Islam dan orang kelima yang diislamkan Abu Bakar ra.&lt;br /&gt;Perang Uhud telah memberikan bekas lebih dari dua puluh luka dalam tubuhnya dan salah satu lukanya menyebabkan dia pincang. Perang Uhud juga menyebabkan beberapa giginya rontok sehingga mempengaruhi ucapan dan tutur katanya.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam lubuk hatinya telah terhujam hijrah dan jihadnya fisabilillah semata-mata untuk mengibarkan panji Islam dan untuk meninggikan kejayaannya.&lt;br /&gt;Abdurrahman telah mengenal jalan ke surga. Oleh karena itu ia ingin memperolehnya dengan pemberian dan pengorbanan. Pemberian dan pengorbanan dengan seluruh harta dan jiwa raganya. Pengorbanan dengan jiwa raga adalah puncak dari segala kemurahan hati.&lt;br /&gt;Abdurrahman bin Auf menyatakan keislamnnya sebelum Rasulullah SAW menetapkan rumah Al Arqam bin Abi Al Arqam sebagai pusat da’wah.&lt;br /&gt;II. Seorang Pedagang Ilahi Rahmani&lt;br /&gt;Abdurrahman sangat mahir berdagang. Ia menguasai perekonomian dan keuangan. Lagipula hidupnya selalu disertai dengan kemujuran taufik dan barokah.&lt;br /&gt;Dia pernah berkata, “Anda akan melihat aku, tiap saat aku mengangkat batu aku berharap menemukan di bawahnya emas atau perak.”&lt;br /&gt;Tetapi kegiatannya dalam perdagangan tidak menghambat pelaksanaan aqidahnya yang telah diyakini dan diperjuangkannya, selalu siap menanggung resiko dan akibatnya.&lt;br /&gt;III. Berhijrah Kepada Allah&lt;br /&gt;Setelah gangguan dan siksaan Quraisy mengganas, Abdurrahman pergi hijrah ke Habasyah. Sekembalinya dari Habasyah ia mendapat gangguan dan gangguan itu semakin memuncak tatkala ia hijrah kembali ke Habasyah untuk kedua kalinya. Hijrahnya ini ia lakukan karena keadaannya sudah sangat tertindas. &lt;br /&gt;Bukankah caranya melarikan diri itu membuktikan kelemahan jiwanya? Ya, memang benar, tapi dia melarikan diri untuk mempertahankan dan menyelamatkan agamanya. Dia melarikan kepada Allah Robbul ‘Alamin. Dari cengkeraman manusia-manusia yang sesat. Itu adalah hak kaum lemah di muka bumi untuk menyelamatkan agama mereka sedapat mungkin agar mereka dan da’wahnya tidak dibantai dalam buaian. &lt;br /&gt;Bumi Allah itu sangat luas dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rejeki yang banyak.&lt;br /&gt;Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang pilar da’wah Islamiyah dan salah seorang yang dibina dan dipersiapkan Nabi SAW untuk membawa panji dan penyebaran agama Islam. Setelah hijrah ke Madinah seluruh harta kekayaan dan perdagangannya disita dan dirampas Quraisy, penguasa Mekah. &lt;br /&gt;Begitu pula denga harta kekayaan Shuhaib Arrumi. Hartanya disita sebagai imbalan dan syarat diijinkannya berhijrah. Ketika mendengar peristiwa tersebut Nabi SAW bersabda: “Demi Allah Shuhaib beruntung.”&lt;br /&gt;IV. Abdurrahman Memulai yang Lebih Tinggi Dari Kekayaan Dunia&lt;br /&gt;Di kota Madinah, kaum Muhajirin dan Anshor hidup rukun sekali. Dukungan serta bantuan dari kaum Anshor sangat besar sehingga tidak pernah ada pertolongan yang sebesar itu dalam sejarah sebelumnya.&lt;br /&gt;Kaum Anshor mengutamakan kaum Muhajirin di atas kepentingan diri mereka sendiri walaupun mereka dalam kesusahan dan kesempitan. Tapi kaum Muhajirin tidak ingin selalu menjadi beban orang lain karena Islam membina umat ke arah hidup mulia, terhormat dan mendorong orang bekerja dan berusaha. Kaum Anshor adalah petani, sedangkan kaum Muhajirin pada umumnya adalah pedagang.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshor. Abdurrahman dipersaudarakan dengan Sa’ad ibnu Arrabil Alausari, orang yang kaya raya.&lt;br /&gt;Sa’ad berkata kepada Abdurrahman, “Hartaku seluruhnya separuh untuk kamu dan aku akan berusaha mengawinkan kamu.”&lt;br /&gt;Abdurrahman menjawab, “Semoga Allah memberkahi keluarga dan saudaramu. Tunjukkan saja dimana tempat pasar perdagangan Rasulullah SAW di Mekah?” Sa’ad menjawab, “Oh baiklah, ada, yakni pasar bani Qainuqaa.”&lt;br /&gt;Abdurrahman memulai usahanya dengan berdagang sagu dan minyak samin. Tapi tidak lama kemudian dia sudah dapat mengumpulkan sedikit uang dari hasil keuntungan dagangnya. Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Apakah kamu sudah menikah?”&lt;br /&gt;Abdurrahman menjawab, “Benar, ya Rasulullah.”&lt;br /&gt;Nabi SAW bertanya, “Dengan siapa?”&lt;br /&gt;Abdurrahman menjawab, “Dengan wanita dari Anshor.”&lt;br /&gt;Nabi SAW bertanya, “Berapa mahar yang kamu berikan?”&lt;br /&gt;Abdurrahman menjawab, “Sebutir emas” (masudnya emas seperti dan seberat sebutir kurma).&lt;br /&gt;Nabi menyuruhnya, “Adakan walimah meskipun dengan seekor domba.”&lt;br /&gt;Lalu Abdurrahman mengundang kaum Muhajirin dan Anshor dalam suatu walimah sebagai pengumuman tentang pernikahannya.&lt;br /&gt;Rasulullah SAW menghendaki kaum muslimin meneladani perjuangan, usaha dan kerja Abdurrahman bin Auf yang telah berhasil merintis jalan ke arah hidup mulia dan terhormat. Tangan di atas lebih baik dari tangan yang di bawah, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW: “Tidak ada sesuatu makanan yang baik melebihi apa yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Nabi Allah Daud makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;“Seseorang yang mencari kayu lalu memanggulnya di atas pundaknya lebih baik baginya dari mengemis yang kadangkala diberi atau ditolak.” (H.R. Bukhari)&lt;br /&gt;Nabi SAW ditanya, “Penghasilan apa yang paling baik?” Maka beliau menjawab, “Apa yang dihasilkan orang dari pekerjaan tangannya dan semua jual beli mabrur.” (HR. Bukhari dan Al Hakim)&lt;br /&gt;Dengan anjuran dan bimbingan Nabi SAW, kaum muslimin bangkit. Di antara mereka ada yang menjadi petani, pedagang, pandai besi, penjahit, buruh pekerja dan lain-lain dan tidak ada seorang pun yang menganggur.&lt;br /&gt;Kegiatan dan gerakan itu diikuti oleh kaum wanita. Seorang wanita datang kepada Nabi SAW sambil membawa sehelai mantel untuk dihadiahkan kepada beliau, seraya berkata, “Ya Rasulullah, mantel ini aku tenun sendiri dengan tanganku, “Rasulullah SAW menerima hadiahnya itu.” (HR. Bukhari)&lt;br /&gt;Abdurrahman bin Auf sukses dalam perdagangannya dengan mengikuti petunjuk-petunjuk Nabi SAW. Ia selalu menghiasi dirinya dengan adab sopan Islami sehingga Allah memberkahinya dan membimbing langkah-langkahnya.&lt;br /&gt;Setelah menjadi orang kaya raya, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Hai Abdurrahman bin Auf, kamu sekarang menjadi orang kaya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak (mengingsur). Pinjamkanlah hartamu kepada Allah agar lancar kedua kakimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadrak)&lt;br /&gt;Pesan-pesan Rasulullah SAW tersebut amat menyentuh hatinya, oleh karena itu sejak saat itu dia banyak beramal sodaqoh dan Allah melipat gandakan kekayaannya.&lt;br /&gt;Dia bersaing dengan Utsman bin Affan dalam membiayai pasukan Islam yakni dengan menyerahkan separuh dari kekayaannya kepada Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;Ketika menerimanya Rasulullah SAW berdo’a: “Semoga Allah memberkahimu dalam apa yang kamu tahan dan kamu berikan.”&lt;br /&gt;Kemudian turun ayat firma Allah SWT:&lt;br /&gt;“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dengan menyakiti (perasaan si penerima) mereka memperoleh pahala di sisi Robb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”&lt;br /&gt;Ketika telah dekat dengan ajalnya, Abdurrahman bin Auf berwasiat agar setiap kaum muslimin peserta perang Badar yang masih hidup, diberi empat ratus dinar dari harta warisannya, dan ternyata peserta perang Badar yang masih hidup berjumlah seratus orang, termasuk Utsman ra. dan Ali ra.&lt;br /&gt;Dia juga berwasiat agar sejumlah besar uangnya diberikan kepada ummahatul mukminin (janda-janda Rasulullah SAW), sehingga Aisyah berdo’a:&lt;br /&gt;“Semoga Allah memberi minum kepadanya air dari mata air Salsabil di surga.”&lt;br /&gt;Dari Ali ra. berkata sesudah Abdurrahman bin Auf wafat. Katanya, “Pergilah wahai ibnu Auf. Kamu telah memperoleh jernihnya dan telah meninggalkan kepalsuannya (keburukannya).” (HR. Al Hakim)&lt;br /&gt;Ini berarti Abdurrahman bin Auf telah memperoleh pahala dari harta yang diinfakkannya, dan ia meninggalkan akibat buruk dari harta yang telah ditinggalkannya.&lt;br /&gt;Ketika wafat jenazah Abdurrahman bin Auf disholatkan oleh Utsman ra. dan diusung oleh Sa’ad bin Abi Waqqash ra. ia wafat dalam usia 75 tahun dan dimakamkan di pemakaman Albaqii.&lt;br /&gt;Semoga bermanfaat.&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.geocities.com/ahmad_dir/sahabat/index.html" style="color: #33ff33;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-6637943549691830053?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/6637943549691830053/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/pedagang-besar-yang-sukses-i.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6637943549691830053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/6637943549691830053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/pedagang-besar-yang-sukses-i.html' title='Abdurrahman bin Auf'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-1885377914842837859</id><published>2009-08-22T20:37:00.000-07:00</published><updated>2010-12-15T05:36:58.979-08:00</updated><title type='text'>Thalhah bin Ubaidillah</title><content type='html'>Syahid Yang Masih Hidup&lt;br /&gt;Kemurahan dan kedermawanan Thalhah bin Ubaidillah patut kita contoh dan kita teladani. Dalam hidupnya ia mempunyai tujuan utama yaitu bermurah dalam pengorbanan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah bin Ubaidillah merupakan salah seorang dari delapan orang yang pertama masuk Islam, dimana saat itu satu orang bernilai seribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal keislamannya hingga akhir hidupnya ia tidak pernah mengingkari janji. Janjinya selalu tepat. Ia juga dikenal sebagai orang jujur, tidak pernah menipu apalagi berkhianat. Thalhah masuk Islam melalui anak pamannya, Abu Bakar Assiddiq ra.&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan disertai Abu Bakar Assiddiq, Thalhah pergi menemui Rasulullah SAW. Setelah berhasil berjumpa dengan Rasulullah SAW, Thalhah mengungkapkan niatnya hendak ikut memeluk Dinul haq, Islam. Maka Rasulullah SAW menyuruhnya mengucapkan dua kalimat syahadat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyatakan keislamannya di hadapan Muhammad SAW. Thalhah dan Abu Bakar ra. pun pergi. Tapi di tengah jalan mereka dicegat oleh Nofal bin Khuwalid yang dikenal dengan “Singa Quraisy”, yang terkenal kejam dan bengis. Nofal kemudian memanggil gerombolannya untuk menangkap mereka. Ternyata Thalhah dan Abu Bakar tidak hanya ditangkap saja, mereka diikat dalam satu tambang. Semua itu dilakukan Nofal sebagai siksaan atas keislaman Thalhah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itulah Thalhah dan Abu Bakar ra. dijuluki “Alqori-nain” atau “dua serangkai”. Dan sesudah masuk Islam Thalhah selalu mendampingi Rasulullah SAW.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riwayat hidup Thalhah merupakan hembusan angin yang harum dalam rangkaian sejarah yang agung penuh keteladanan. Oleh karena itu alangkah patutnya bila kita menerapkan sejarah lama untuk masa kini dan merintis jalan yang pernah ditempuh pendahulu kita serta beriman sebagaimana mereka beriman, jujur, ikhlas dan setia seperti yang mereka lakukan dan berjihad sebagaimana mereka berjihad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib agama kita akan membaik bila kita menempuhnya dengan cara yang ditempuh para pendahulu kita, sebagaimana yang Allah firmankan: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya sedang dia menyaksikannya.” (QS. Qoof : 37)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Ia orang yang kokoh dalam mempertahankan pendirian meskipun ketika di jaman jahiliyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pergi ke Syam ia singgah sebentar di Bushra. Di situ ia mendengar ada seorang pastur yang sedang mencari orang berasal dari Mekah. Mengetahui hal itu maka Thalhah segera mendekati pastur itu. Ternyata pastur itu mempertanyakan seorang lelaki bernama Ahmad bin Abdillah bin Abdul Muthalib di Mekah, karena kini sudah saatnya dia muncul.&lt;br /&gt;Setelah pulang dia bertemu dengan Abu Bakar dan masuk Islam sesudah Utsman bin Affan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu perang Badar, Thalhah tidak ikut bertempur di medan laga karena pada waktu itu ia diberi tugas khusus oleh Rasulullah SAW sebagai pengintai kafilah Quraisy yang tengah menuju daerah Alhaura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang Uhud&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila diingatkan tentang perang Uhud, Abu Bakar ra. selalu teringat pada Thalhah. Pada waktu itu akulah orang pertama yang menjumpai Rasulullah SAW. Ketika melihat aku dan Abu Ubaidah, baginda berkata kepada kami: “Lihatlah saudaramu ini.” Pada waktu itu aku melihat tubuh Thalhah terkena lebih dari tujuh puluh tikaman atau panah dan jari tangannya putus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi bangsa Quraisy perang Uhud merupakan tindak balas atas kekalahannya sewaktu perang Badar. Pada awal pertempuran Uhud kaum muslimin telah memperoleh kemenangan. Pasukan kafir Quraisy kocar-kacir dan mundur dari medan perang. Tapi ketika kaum muslimin melihat mereka mundur, para pemanah yang bertugas di bukit menutup jalur belakang segera berlari turun. Mereka kemudian mengumpulkan barang-barang peninggalan musuh. Mereka mengira pertempuran telah berakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata pasukan musuh menerobos melalui jalur belakang. Pasukan kaum muslimin benar-benar telah lengah sehingga mereka dapat dipukul dari dua arah, maka mendadak mereka menjadi panik dan tak tahu harus berbuat apa. Peristiwa ini akibat dari kesalahan pasukan pemanah yang ditugaskan oleh Rasulullah SAW untuk melindungi pasukan muslimin dari serangan musuh yang berasal dari belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran sengitpun terjadilah. Kaum musyrikin benar-benar ingin membalas dendam. Mereka masing-masing mencari orang yang pernah membunuh keluarga mereka sewaktu perang Badar. Mereka berniat akan membunuh dan memotong-motongnya dengan sadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua musyrikin berusaha mencari Rasulullah SAW. Dengan pedang-pedangnya yang tajam dan mengkilat mereka terus mencari Rasulullah SAW. Mereka amat gemas, benci dan penasaran karena sewaktu hijrah ke Madinah, mereka tidak berhasil menemukan Muhammad. Kini, pada saat perang Uhud, mereka dengan dendam membara terus mencarinya. Tetapi kaum muslimin melindungi Rasulullah SAW. Mereka melindungi baginda Rasulullah SAW dengan tubuhnya dan dengan segala daya. Mereka rela terkena sabetan, tikaman pedang dan anak panah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombak dan panah menghujam mereka, tetapi mereka tetap bertahan melawan kaum musyrikin Quraisy. Hati-hati mereka berucap dengan teguh, “Aku korbankan ayah ibuku untuk engkau ya Rasulullah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu diantara mujahid yang melindungi nabi SAW dengan tulus ikhlas adalah Thalhah. Ia berperawakan tinggi kekar. Ia ayunkan pedangnya ke kanan dan ke kiri. Ia melompat ke arah Rasulullah yang tubuhnya telah berdarah. Dipeluknya tubuh baginda dengan tangan kiri dan dadanya. Sementara pedang yang ada di tangan kanannya ia ayunkan ke arah lawan yang mengelilinginya seperti laron yang tidak mempedulikan maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Rasulullah selamat. Peristiwa ini merupakan pelajaran dan pengalaman pahit yang tidak terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekilas uraian tentang keteguhan dan pengorbanan Thalhah melindungi Rasul-Nya. Thalhah memang merupakan seorang pahlawan dalam barisan tentara perang Uhud. Ia siap berkorban membela Nabi SAW. Ia memang patut ditempatkan pada barisan depan karena Allah telah menganugerahkan kepada dirinya tubuh yang kuat dan kekar, keimanan yang teguh dan keikhlasan pada agama Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kaum musyrikin pergi meninggalkan medan perang. Mereka mengira Rasulullah SAW telah tewas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, Rasulullah SAW selamat walaupun dalam keadaan menderita luka-luka. Baginda dipapah oleh Thalhah menaiki bikit yang ada di ujung medan pertempuran. Tangan, tubuh dan kakinya diciumi oleh Thalhah seraya berkata, “Aku tebus engkau ya Rasulullah dengan ayah ibuku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nabi SAW tersenyum dan berkata, “Engkau adalah Thalhah kebajikan.” Di hadapan para sahabat Nabi SAW bersabda, “Keharusan bagi Thalhah adalah memperoleh….”. Yang dimaksud Nabi SAW adalah memperoleh surga. Sejak peristiwa Uhud itulah Thalhah mendapat julukan “Burung Elang dari Uhud”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Thalhah Hijrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu hijrah ke Madinah, Rasulullah SAW pergi dengan Abu Bakar ra., sedangkan Ruqayah, putri Rasulullah SAW pergi bersama suaminya, Utsman ra. Adapun Zainab, putri sulung Rasulullah SAW tidak hijrah karena ia menetap di Mekah bersama suaminya Abul Ash ibnu Arrabi yang masih kafir. Adapun Ummu Khaltum dan Fatimah tengah menunggu orang yang akan menemani dan mengawal mereka sehingga bisa selamat sampai di kota Madinah. Dan Thalhah mendapat kehormatan untuk menyertai mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengawalan khalifah diserahkan kepada Zaid bin Haritsah dan Usamah bin Zaid. Kafilah berangkat ke Madinah. Mereka yang ikut serta dalam rombongan itu antara lain Fatimah, Ummu Khaltum dan istri Rasulullah SAW ummul mukmu\inin yaitu Saudah binti Zum’ah dan Ummu Aiman ra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah yang Dermawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda melihat sungai yang airnya mengalir terus menerus mengairi daratan dan lembah? Begitulah Thalhah bin Ubaidillah. Ia adalah salah seorang dari kaum muslimin yang kaya raya, tapi pemurah dan dermawan. Istrinya bernama Su’da binti Auf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari istrinya melihat Thalhah sedang murung dan duduk termenung sedih. Melihat keadaan suaminya, sang istri segera menanyakan penyebab kesedihannya, dan Thalhah menjawab, “Uang yang ada di tanganku sekarang ini begitu banyak sehingga memusingkanku. Apa yang harus kulakukan?” Maka istrinya berkata, “Uang yang ada di tanganmu itu bagi-bagikanlah kepada fakir miskin.” Maka dibagi-bagikannyalah seluruh uang yang ada di tangan Thalhah tanpa meninggalkan sepeser pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Assaib bin Zaid pun berkata tentang Thalhah. Katanya, “Aku berkawan dengan Thalhah baik dalam perjalanan maupun sewaktu bermukim. Aku melihat tidak ada seorangpun yang lebih dermawan dari dia terhadap kaum muslimin. Ia mendermakan uang, sandang dan pangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabir bin Abdullah pun bertutur, “Aku tidak pernah melihat orang yang lebih dermawan dati Thalhah walaupun tanpa diminta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu patutlah jika dia dijuluki “Thalhah si dermawan”, “Thalhah si pengalir harta”, “Thalhah kebaikan dan kebajikan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wafatnya Thalhah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu terjadi pertempuran “Al Jamal”, Thalhah bertemu dengan Ali ra. Ali memperingatkannya agar ia mundur ke barisan paling belakang. Sebuah panah mengenai betisnya maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam, ia wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thalhah wafat pada usia enam puluh tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pernah berkata pada para sahabat ra. “Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi maka lihatlah Thalhah.”&lt;br /&gt;Hal ini juga dikatakan Allah dalam firman-Nya: “Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka diantara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya.” (QS. Al Ahzab : 23).&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.akhmien.co.cc/"&gt;&lt;/a&gt;&lt;a href="http://www.akhmien.co.cc/"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-1885377914842837859?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/1885377914842837859/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/syahid-yang-masih-hidup-kemurahan-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/1885377914842837859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/1885377914842837859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/syahid-yang-masih-hidup-kemurahan-dan.html' title='Thalhah bin Ubaidillah'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3010347829813883950.post-2608424431151503989</id><published>2009-08-15T08:35:00.000-07:00</published><updated>2010-12-15T05:37:15.671-08:00</updated><title type='text'>Abdullah Ibnu Rawahah</title><content type='html'>Waktu itu Rasulullah saw. sedang duduk di suatu tempat dataran tinggi kota Mekah, menghadapi para utusan yang datang dari kota Madinah, dengan bersembunyi-sembunyi dari kaum Quraisy. Mereka yang datang ini terdiri dari dua belas orang utusan suku atau kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Kaum Anshar (penolong Rasul). Mereka sedang dibai'at Rasul (diambil janji sumpah setia) yang terkenal pula dengan nama Bai'ah Al-Aqabah Al-Ula (Aqabah pertama). Merekalah pembawa dan penyi'ar IsIam pertama ke kota Madinah, dan bai'at merekalah yang membuka jalan bagi hijrah Nabi beserta pengikut beliau, yang pada gilirannya kemudian, membawa kemajuan pesat bagi Agama Allah yaitu Islam. Maka salah seorang dari utusan yang dibai'at Nabi itu, adalah Abdullah bin Rawahah. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Dan pada tahun berikutnya, Rasulullah saw membai'at lagi tujuh puluh tiga orang Anshar dari penduduk Madinah pada bai'at 'Aqabah kedua, maka tokoh Ibnu Rawahah ini pun termasuk salah seorang utusan yang dibai'at itu.  &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian sesudah Rasullullah bersama shahabatnya hijrah ke Madinah dan menetap di sana, maka Abdullah bin Rawahah pulalah yang paling banyak usaha dan kegiatannya dalam membela Agama dan mengukuhkan sendi-sendinya. Ialah yang paling waspada mengawasi sepak terjang dan tipu muslihat Abdullah bin Ubay (pemimpin golongan munafik) yang oleh penduduk Madinah telah dipersiapkan untuk diangkat menjadi raja sebelum Islam hijrah ke sana, dan yang tak putus-putusnya berusaha menjatuhkan Islam dengan tidak menyia-nyiakan setiap kesempatan yang ada. Berkat kesiagaan Abdullah bin Rawahah yang terus-menerus mengikuti gerak-gerik Abdullah bin Ubay dengan cermat, maka gagallah usahanya, dan maksud-maksud jahatnya terhadap Islam dapat di patahkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ibnu Rawahah adalah seorang penulis yang tinggal di suatu lingkungan yang langka degan kepandaian tulis baca. Ia juga seorang penyair yang lancar, untaian syair-syairnya meluncur dari lidahnya dengan kuat dan indah didengar. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Semenjak ia memeluk Islam, dibaktikannya kemampuannya bersyair itu untuk mengabdi bagi kejayaan Islam. Rasullullah menyukai dan menikmati syair-syairnya dan sering beliau minta untuk lebih tekun lagi membuat syair.Pada suatu hari, beliau duduk bersama para sahabatnya, tiba-tiba datanglah Abdullah bin Rawahah, lalu Nabi bertanya kepadanya, "Apa yang anda lakukan jika anda hendak mengucapkan syair?"Jawab Abdullah, "Kurenungkan dulu, kemudian baru kuucapkan." Lalu teruslah ia mengucapkan syairnya tanpa bertangguh, demikian kira-kira artinya secara bebas: &lt;/div&gt;&lt;pre&gt;"Wahai putera Hasyim yang baik,&lt;br /&gt;Sungguh Allah telah melebihkanmu dari seluruh manusia,&lt;br /&gt;Dan memberimu keutamaan,&lt;br /&gt;Di mana orang tak usah iri. Dan sungguh aku menaruh firasat baik yang kuyakini terhadap dirimu,&lt;br /&gt;Suatu firasat yang berbeda dengan pandangan hidup mereka.&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Seandainya anda bertanya dan meminta pertolongan mereka,&lt;br /&gt;Dan memecahkan persoalan ,&lt;br /&gt;Tiadalah mereka hendak menjawab atau membela.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Karena itu Allah mengukuhkan kebaikan dan ajaran yang anda bawa,&lt;br /&gt;Sebagaimana Ia telah mengukuhkan dan memberi pertolongan kepada Musa."&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div align="justify"&gt;Mendengar itu Rasul menjadi gembira dan ridla kepadanya, lalu sabdanya, "Dan engkau pun akan diteguhkan Allah."Dan sewaktu Rasulullah sedang thawaf di Baitullah pada 'umrah qadla, Ibnu Rawahah berada di muka beliau sambil membaca syair dari rajaznya: &lt;/div&gt;&lt;pre&gt;"Oh Tuhan,&lt;br /&gt;Kalaulah tidak karena Engkau,&lt;br /&gt;Niscaya tidaklah kami akan mendapat petunjuk,&lt;br /&gt;Tidak akan bersedeqah dan Shalat!&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Maka mohon diturunkan sakinah atas kami,&lt;br /&gt;Dan diteguhkan pendirian kami jika musuh datang menghadang.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang telah aniaya terhadap kami,&lt;br /&gt;Bila mereka membuat fitnah akan kami tolak dan kami tentang."&lt;/div&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang Islam pun sering mengulang-ulangi syair-syairnya yang indah.Penyair Rawahah yang produktif ini amat berduka sewaktu turun ayat al-Quranul Karim yang artinya, &lt;i&gt;"Dan para penyair, banyak pengikut mereka orang-orang sesat."&lt;/i&gt; (QS Asy-Syu'ara: 224). Tetapi kedukaan hatinya jadi terlipur waktu turun pula ayat lainnya, &lt;i&gt;"Kecuali orang-orang(penyair) yang beriman dan beramal shaleh dan banyak ingat kepada Allah, dan menuntut bela sesudah mereka dianiaya."&lt;/i&gt; (QS Asy-Syu'ara: 227) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan sewaktu Islam terpaksa terjun ke medan perang karena membela diri, tampillah Abdullah ibnu Rawahah membawa pedangnya ke medan tempur Badar, Uhud, Khandak, Hudaibiah dan Khaibar, seraya menjadikan kalimat-kalimat syairnya dan qashidahnya menjadi slogan perjuangan, &lt;i&gt;"Wahai diri! Seandainya engkau tidak tewas terbunuh, tetapi engkau pasti akan mati juga!"&lt;/i&gt;Ia juga menyorakkan teriakan perang, &lt;i&gt;"Menyingkir kamu, hai anak-anak kafir dari jalannya. Menyingkir kamu setiap kebaikan akan ditemui pada Rasulnya."&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan datanglah waktunya perang Muktah. Abdullah bin Rawahah adalah panglima yang ketiga dalam pasukan Islam. Ibnu Rawahah berdiri dalam keadaan siap bersama pasukkan Islam yang berangkat meninggalkan kota Madinah. Ia tegak sejenak lalu berkata, mengucapkan syairnya: &lt;/div&gt;&lt;pre&gt;"Yang kupinta kepada Allah Yang Maha Rahman,&lt;br /&gt;Keampunan dan kemenangan di medan perang,&lt;br /&gt;Dan setiap ayunan pedangku memberi ketentuan,&lt;br /&gt;Bertekuk lututnya angkatan perang syetan,&lt;br /&gt;Akhirnya aku tersungkur memenuhi harapan,&lt;br /&gt;Mati syahid di medan perang!"&lt;/pre&gt;&lt;div align="justify"&gt;Benar, itulah cita-citanya kemenangan dan hilang terbilang, pukulan pedang atau tusukan tombak, yang akan membawanya ke alam syuhada yang berbahagia!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Balatentara Islam maju bergerak kemedan perang Muktah. Sewaktu orang-orang Islam dari kejauhan telah dapat melihat musuh-musuh mereka, mereka memperkirakan besarnya balatentara Romawi sekitar dua ratus ribu orang! Karena menurut kenyataan barisan tentara mereka seakan tak ada ujung akhir dan seolah-olah tidak terbilang banyaknya! &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Orang-orang Islam melihat jumlah mereka yang sedikit, lalu terdiam dan sebagian ada yang menyeletuk berkata, "Baiknya kita kirim utusan kepada Rasulullah, memberitakan jumlah musuh yang besar. Mungkin kita dapat bantuan tambahan pasukan, atau jika diperintahkan tetap maju maka kita patuhi." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Tetapi Ibnu Rawahah, bagaikan datangnya siang bangun berdiri di antara barisan pasukan-pasukannya lalu berucap, "Kawan-kawan sekalian! Demi Ailah, sesungguhnya kita berperang melawan musuh-musuh kita bukan berdasar bilangan, kekuatan atau banyaknya jumlah. Kita tidak memerangi mereka, melainkan karena mempertahankan Agama kita ini, yang dengan memeluknya kita telah dimuliakan Allah! Ayohlah kita maju! Salah satu dari dua kebaikan pasti kita capai, kemenangan atau syahid di jalan Allah!"&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dengan bersorak-sorai Kaum Muslimin yang sedikit bilangannya tetapi besar imannya itu menyatakan setuju. Mereka berteriak: "Sungguh, demi Allah, benar yang dibilang Ibnu Rawahah!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya. Kedua pasukan, balatentara itu pun bertemu, lalu berkecamuklah pertempuran di antara keduanya. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Pemimpin yang pertama Zaid bin Haritsah gugur sebagai syahid yang mulia, disusul oleh pemimpin yang kedua Ja'far bin Abi Thalib, hingga ia memperoleh syahidnya pula dengan penuh kesabaran, dan menyusul pula sesudah itu pemimpin yang ketiga ini, Abdullah bin Rawahah. Di kala itu ia memungut panji perang dari tangan kanannya Ja'far, sementara peperangan sudah mencapai puncaknya. Hampir-hampirlah pasukan Islam yang kecil itu, tersapu musnah di antara pasukan-pasukan Romawi yang datang membajir laksana air bah, yang berhasil dihimpun oleh Heraklius untuk maksud ini. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah ini menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, demi terlihat kehebatan tentara Romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru: &lt;/div&gt;&lt;pre&gt;"Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga,&lt;br /&gt;Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga...&lt;br /&gt;Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati,&lt;br /&gt;Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti...&lt;br /&gt;Tibalah waktunya apa yng engkau idam-idamkan selama ini,&lt;br /&gt;Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati!&lt;br /&gt;(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja'far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada)&lt;br /&gt;Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati!"&lt;/pre&gt;&lt;div align="justify"&gt;Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalanannya pulang ke hadirat Allah, maka naiklah ia sebagai syahid. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya, "Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku, 'Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah, dan benar ia telah terpimpin!'" "Benar engkau, ya Ibnu Rawahah! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah!" &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa' di Syam, Rasulullah saw sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka dan belas kasihan. Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata, "Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid... Kemudian diambil alih oleh Ja'far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula..." Beliau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya, "Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya iapun syahid pula." &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula, "Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga." &lt;/div&gt;&lt;pre&gt;Perjalanan manalagi yang lebih mulia …&lt;br /&gt;Kesepakatan mana lagi yang lebih berbahagia …&lt;br /&gt;&lt;/pre&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Mereka maju ke medan laga bersama-sama …&lt;/div&gt;&lt;pre&gt;Dan mereka naik ke syurga bersama-sama pula …&lt;/pre&gt;&lt;div align="justify"&gt;Dan penghormatan terbaik yang diberikan untuk mengenangkan jasa mereka yang abadi, ialah ucapan Rasullullah Shallallahu alaihi wa sallam yang berbunyi, "Mereka telah diangkatkan ke tempatku ke syurga……" &lt;/div&gt;Sumber : Buku Rijal Haular Rasul (Khalid Muh.Khalid).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3010347829813883950-2608424431151503989?l=akhmienkisah.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/feeds/2608424431151503989/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/waktu-itu-rasulullah-saw.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/2608424431151503989'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3010347829813883950/posts/default/2608424431151503989'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://akhmienkisah.blogspot.com/2009/08/waktu-itu-rasulullah-saw.html' title='Abdullah Ibnu Rawahah'/><author><name>akhmien taziex</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_prT4fPrBkbs/SnhqRy0R6GI/AAAAAAAAAAc/06xnlvomZLI/S220/akhi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
